Thak-Thakan menjadi daya tawar esensi warisan budaya lokal dalam sebuah pertunjukan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Iringan musik yang dimainkan menciptakan suasana kesakralan yang dipadukan dengan kemunculan sosok hewan dan makhluk astral dalam rangkaian cerita. Pertunjukan Thak-Thakan merupakan pesona kesenian lokal yang memiliki daya tarik tersendiri di benak penontonnya.
Topeng Thak-thakan Gembong Singo Lawe, Desa Belikanget, jumlahnya lebih banyak mengikuti perkembangan zaman (ada juga dua topeng perempuan penggoda), pewarnaan lebih cerah. Pertunjukan Thak-Thakan Gembong Singo Lawe Desa Belikanget tidak terbatas pada prosesi arak-arakan dalam bahasa Jawa, tetapi dapat dilakukan di panggung terbuka, dan lapangan terbuka di luar ruangan. Waktu tayang sesuai permintaan responden bisa pagi, siang, sore, atau malam. Persembahan tidak diperlukan sebagai pelengkap pertunjukan. Kostum pemain Thak-Thakan Gembong Singo Lawe Desa Belikanget tidak lagi menggunakan karung goni, melainkan kain warna-warni yang disesuaikan dengan selera masyarakat. Alat musik tidak lagi menggunakan kethuk, kenong, dan gong, melainkan alat pentatonik dan diatonis, bahkan tape recorder. Musik pengiring campursari, dangdut, dan pop Indonesia. Thak-Thakan Gembong Singo Lawe Desa Belikanget menyajikan lakon-lakon tertentu sesuai permintaan responden, dapat menyajikan cerita legenda, mitos, pahlawan lokal, dan kehidupan rumah tangga sehari-hari. Seni pertunjukan Thak-Thakan pada awal berdirinya di Kecamatan Tambakboyo Kabupaten Tuban difungsikan sebagai ritual pengusir roh jahat Jawa. Saat ini pertunjukan Thak-Thakan berfungsi sebagai kerukunan dan kebersamaan antar warga masyarakat.
Fenomena komodifikasi dan manipulasi budaya tidak dapat dihindari, terutama yang terjadi pada seni popular. Wilayah kegiatan seni populer selain sebagai kegiatan ekspresi seni, sekaligus sebagai sumber ekonomi, lapangan kerja, dan membawa kemajuan perubahan masyarakat. Seni popular dapat memberi efek kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Seni populer menjual budaya yang sedang menjadi konsumsi masyarakat luas. Ukuran seni popular tidak lagi pada kualitas seni, tetapi pada uang yang diperoleh penyelenggara kegiatan dan seniman. Konsep laku (payu, bahasa Jawa) lebih diprioritaskan daripada kualitas seni (mutu, bahasa Jawa). Keberadaan seni pertunjukan Thak-thakan populer berpengaruh positif terhadap inovasi budaya, konservasi, penguatan ikatan tradisional, dan mendorong kreativitas seniman.
Komodifikasi telah terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, terutama upacara keagamaan, ruang, kesenian, dan pura. Komodifikasi tidak dapat dihindari, terus berlanjut, dan memasuki berbagai aspek kehidupan. Komodifikasi secara keseluruhan selalu mempertimbangkan alasan efektivitas dan efisiensi, profan dan sakral, atau ekonomis dan tidak ekonomis. Artinya, komodifikasi dapat dilakukan jika mampu menghasilkan nilai karya yang efektif dan efisien, membangun keaslian meskipun bersifat profan, dan menguntungkan secara finansial.
Penutup:
Terdapat tujuh bentuk komodifikasi Thak-Thakan, yaitu topeng, panggung, busana, waktu, sesajen, alat musik dan iringan, dan bentuk pertunjukan. Hal tersebut terlihat dari proses back stage dan front stage, termasuk yang berkaitan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi. Komersialisasi sebagai faktor eksternal dan idealisme masyarakat Tuban sebagai faktor internal menyebabkan terjadinya komodifikasi seni pertunjukan Thak-Thakan.
Nama Penulis:
Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A.
Dr. Titik Indarti, M.Pd.
Dr. Nadya Afdholy, S.Hum., M.Pd., M.Hum.
Link Jurnal:





