Alam tidak akan pernah lelah memberikan pelajaran. Sebagai manusia, sedikit banyak kita harus mengerti keadaan lingkungan alam sekitar, sehingga kehidupan menjadi lancar dan aman. Itulah yang mengalir dalam jiwa setiap anggota Komunitas Pengkaji Lingkungan Aesculap (KPLA) FK UNAIR.
Komunitas ini berawal dari perkumpulan mahasiswa pecinta alam FK UNAIR, yang kemudian membentuk tim bantuan medis (TBM) KPLA FK UNAIR sejak 4 September 1989.
淜PLA dulu dibentuk, salah satunya oleh dokter Eri Dewanto. Mereka menyalurkan kecintaan mahasiswa FK saat itu terhadap alam, tutur dr. Prananda Surya Airlangga, M. Kes., Sp.An.KIC, pembina KPLA.
Mereka menyalurkan hobi ke alam, melihat alam dengan mendaki gunung-gunung, melihat penambang belerang, dari sanalah mereka terpanggil untuk meneliti dan mengkaji lingkungan sesuai keahlian mereka dengan membentuk TBM.
淒alam mengkaji lingkungan, ketika mereka mau atensi terhadap lingkungan lain. Itu akan sangat melatih mereka untuk lebih matang untuk terjun ke masyarakat terpencil, tambah dokter spesialis anestesi ini.
Menjadi anggota KPLA adalah berlatih menjadi calon dokter yang kuat dan handal. Di samping berlatih survival di alam, setiap anggota KPLA akan dikenalkan banyak materi medis di awal, sehingga pengalaman dan ketrampilan mereka akan terasah sejak dini.
淢ahasiswa FK pasti akan mendapatkan ilmu-ilmu yang kami ajarkan, cuma bedanya kami yang KPLA itu mendapatkannya lebih awal dan lebih sering. Otomatis pengalamannya kan lebih banyak dan lebih mahir, tutur Rafaela Andira Ledyastatin, ketua KPLA periode 2015.
KPLA adalah keluarga medis yang memiliki ikatan begitu kuat. Dengan empat pilar KPLA yaitu brotherhood, timwork, never give up, dan one goal, kelompok ini mengajarkan makna-makna kehidupan. Tidak hanya itu, kegemaran para senior yang telah menjadi dokter muda dan spesialis membina mereka lebih membuat KPLA kuat dan berkembang.
淢baknya itu selalu bersedia mengajari kami. Sudah ada yang spesialis dan dokter. Mereka senantiasa membina adik-adiknya. Saya bisa praktik khitan langsung, ujar Anastasha Puspagita, anggota KPLA semester empat.
Gelar bakti aesculap
Setiap tahun, KPLA selalu mengadakan Baksos bertajuk Gelar Bakti Aesculap. Kegiatan ini merupakan bagian dari tahapan kaderisasi anggota KPLA. Dalam baksos tersebut anggota muda akan bertemu dengan dokter dari berbagai angkatan yang datang untuk menjadi tenaga medis.
Baksos tahun lalu dilakukan di Desa Petung, Kecamatan Panceng, Gresik, salah satu desa pelosok yang jarang didatangi kegiatan baksos.
淢asyarakatnya sangat antusias. Waktu pembukaan banyak yang datang dan waktu hari H kami sempat kewalahan karena banyaknya pasien yang datang, ujar Ledy, sapaan akrab ketua KPLA.
Desa tersebut dipilih berdasaran kriteria masih pelosok. Akses jalan yang tidak mudah, dilihat cukup membutuhkan, dan jarang digunakan sebagai tempat baksos. Ledy melihat di desa sekitar juga masih banyak yang membutuhkan. Kemungkinan tahun depan akan baksos di kota ini lagi.
Ledy juga melihat dari banyaknya antusias warga yang datang bahwa kesadaran masyarakat akan kesehatan cukup baik, dan harus terus difasilitasi. Pada kegiatan tersebut juga, ia melihat KPLA memiliki kelebihan yang baru ia mengerti.
淗ebatnya KPLA itu, yang saya kagum sendiri juga, anak-anak yang cuma belasan aja bisa mengkonsep baksos sebegitu bagusnya. Ada pengobatan gratis, khitan massal, screening katarak, screening kanker serviks, dan penyuluhan-penyuluhan, ujar Ledy bangga.
Di lingkungan kampus, TBM KPLA cukup dikenal baik. Hampir tiap bulan permintaan TBM datang dari berbagai kegiatan. Misalnya pada kegiatan PPKMB, pertandingan olahraga, dan lain-lain. 淚ni bagian dari kayanya KPLA. Pengalaman adalah ilmu yang paling berharga bagi saya. Kalau kita menangani pasien, itu untung kami, lebih banyak pengalaman, tutur Ledy mengakhiri. (has/dss)





