Pencemaran lingkungan secara kimiawi dan mikroba, termasuk air, makanan, tanah, dan udara dapat membahayakan kesehatan manusia. Polusi udara di lingkungan perkotaan merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan, terutama bagi orang-orang yang sensitif, terutama anak-anak. Partikel udara ambien adalah salah satu komponen utama dari polutan udara yang memiliki efek buruk yang signifikan pada kesehatan manusia. Kehadiran partikel udara di ruang kelas sekolah adalah salah satu polutan utama yang mempengaruhi kesehatan siswa dan kualitas udara dalam ruangan. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa partikel dengan ukuran yang berbeda, seperti PM10 dan PM2.5, dikaitkan dengan penurunan indeks fungsi paru-paru sehingga partikel PM2.5 dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan pada alveoli. Selain itu, PTE adalah salah satu racun paling berbahaya di lingkungan, terutama debu di udara. Kehadiran elemen jejak logam di dalam dan pada partikel halus (PM2.5) adalah salah satu komponen utama yang menentukan toksisitas PM2.5. Partikel PM2.5 dihasilkan oleh proses fisik dan mekanik dan terutama berasal dari pembakaran. Selain itu, partikel ini dihasilkan dari sumber lain seperti lalu lintas dan berbagai industri dan sumber daya alam seperti badai debu. Secara umum, sumber emisi PM2.5 dalam ruangan termasuk memasak, panas pembakaran, dan merokok, yang tidak ada di gedung sekolah. Namun, polusi udara dalam ruangan kelas tergantung pada berbagai faktor seperti sistem ventilasi, aktivitas, jumlah penghuni, konsentrasi, dan komposisi PM2.5 luar ruangan. Namun, sumber PM2.5 di kelas mungkin berbeda dari tempat lain, dan komposisi logam PM2.5 juga mungkin berbeda. Elemen jejak ini mungkin berasal dari berbagai sumber perkotaan dan industri. Secara umum, paparan partikel secara luas dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan kardiovaskular, pernapasan, dan imunologi.
Efek ini akan diperburuk oleh elemen berpotensi beracun (PTEs) yang teradsorpsi pada partikel PM2.5. Jejak logam seng dan mangan bersifat karsinogenik dan mutagenik. Konsekuensi ini bahkan lebih berbahaya bagi kesehatan anak-anak karena sistem pernapasan mereka belum sepenuhnya berkembang. Berbagai studi toksikologi telah menunjukkan bahwa komponen logam di dalam atau pada partikel PM2.5 menghasilkan spesies oksigen reaktif melalui reaksi Fenton, yang pada gilirannya menyebabkan kerusakan pada DNA sel, lipid, dan protein. Lebih jauh, banyak penelitian telah menunjukkan bahwa logam yang terikat partikel terlibat dalam menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan mitokondria, yang menyebabkan peningkatan kematian dan penyakit kardiovaskular. Diperkirakan bahwa orang dewasa menghabiskan sekitar 60 sampai 80% dari waktu mereka di dalam ruangan dan anak-anak setidaknya 50% dari waktu mereka di sekolah. Dengan demikian, sebagian besar paparan polutan udara terjadi di lingkungan sekolah, dan paparan partikel halus dan elemen jejak di dalam kelas dapat menyebabkan ancaman kesehatan bagi anak-anak. Oleh karena itu, memahami komposisi dan konsentrasi partikel tersuspensi dan elemen jejak dan hubungannya adalah penting untuk mengevaluasi paparan pribadi. Meskipun ada beberapa penelitian tentang konsentrasi PM2.5 dan PTE yang terikat pada PM2.5 di udara dalam ruangan sekolah perkotaan, meta-analisis belum dilakukan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meta-analisis konsentrasi Zn, Fe, dan Mn terikat PM2.5 di udara dalam ruangan sekolah perkotaan.
Paparan elemen berpotensi toksik (PTEs) yang terikat pada PM2.5 dapat menyebabkan berbagai efek kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular, alergi, dan penyakit terkait lainnya. Ada beberapa penelitian tentang konsentrasi PTEs, termasuk seng (Zn), besi (Fe), dan mangan (Mn) terikat PM2.5 di udara dalam ruangan sekolah perkotaan. Dalam penelitian ini, konsentrasi Zn, Fe, dan Mn di udara dalam ruangan sekolah yang terikat PM2.5 dianalisis secara meta. PubMed dan Scopus digunakan untuk mengambil makalah yang terkait dengan konsentrasi PTE terikat PM2.5 di udara dalam ruangan sekolah perkotaan dari 1 Januari 2000 hingga 10 Maret 2020. Konsentrasi PTE dalam PM2.5 dianalisis secara meta berdasarkan subkelompok negara dalam model efek acak (REM). Tiga puluh makalah dengan 25 laporan data dimasukkan dalam penelitian ini. Urutan peringkat PTE terikat PM2.5 adalah Zn (17,32 ng/ m3 )>Fe (14,49 ng/m3 )>Mn (7,40 ng/m3 ). Urutan peringkat negara berdasarkan konsentrasi Fe-terikat PM2.5 di udara dalam ruangan sekolah perkotaan adalah Cina>Polandia>Italia>Spanyol>Taiwan>Turki>Iran)>Chili; Zn, Polandia>Iran>Taiwan>Turki>Spanyol>Italia>Cile; dan untuk Mn, Polandia>China>Iran>Taiwan>Spanyol>Italia>Chili. Konsentrasi gabungan PTE (Fe, Mn, dan Zn) terikat PM2.5 di udara dalam ruangan sekolah perkotaan di Polandia dan Cina lebih tinggi daripada di negara lain, oleh karena itu, direkomendasikan untuk melakukan konsentrasi PM2.5 program pengurangan udara dalam ruangan sekolah di negara-negara tersebut.
Penulis: Trias Mahmudiono
Untuk mengetahui artikel secara lebih detail, maka dapat mengunjungi link dibawah:
Judul : The concentration of potentially toxic elements (zinc, iron, manganese) bound PM2.5 in the indoor air of urban schools: a global systematic review and meta慳nalysis





