Media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga berpotensi mendukung ilmu pengetahuan dan konservasi. Hal ini dibuktikan melalui penelitian terbaru yang melibatkan dosen 51¶¯Âþ Kampus Banyuwangi, Darmawan Setia Budi, yang mengkaji peran video YouTube buatan hobiis dalam mendokumentasikan reproduksi ikan cupang langka Betta albimarginata.
Ikan cupang bermargin putih (Betta albimarginata) merupakan spesies endemik Indonesia yang hanya ditemukan di Daerah Aliran Sungai Sebuku, Kalimantan Timur. Spesies ini telah masuk dalam kategori terancam punah (Endangered) oleh IUCN akibat penangkapan berlebih untuk perdagangan ikan hias serta kerusakan habitat alami.
Minim Data Ilmiah, Hobiis Jadi Sumber Informasi Penting
Selama ini, informasi ilmiah mengenai biologi reproduksi Betta albimarginata sangat terbatas. Padahal, pemahaman tentang perilaku kawin dan pembesaran larva sangat penting untuk mendukung program konservasi dan penangkaran.
Melalui pendekatan inovatif, tim peneliti menganalisis video YouTube yang diunggah oleh para hobiis ikan hias. Dari puluhan video yang ditelusuri, empat video terpilih dianalisis secara mendalam karena menampilkan proses pemijahan, pengeraman telur, hingga perawatan larva secara visual dan berkelanjutan. Hobiis sering kali memiliki pengalaman praktis yang sangat kaya. Ketika pengalaman ini terdokumentasi dengan baik, nilainya bisa sangat besar bagi ilmu pengetahuan dan konservasi.
Mengungkap Perilaku Reproduksi Ikan Cupang Langka
Hasil penelitian menunjukkan bahwa video YouTube mampu merekam berbagai aspek penting reproduksi Betta albimarginata, mulai dari:
- Perbedaan jantan dan betina,
- Perilaku kawin (breeding hug),
- Pengeraman telur di dalam mulut induk jantan (mouthbrooding) selama 14“21 hari,
- Hingga perkembangan larva dan juvenil.
Beberapa video bahkan menunjukkan detail unik yang jarang terdokumentasi dalam literatur ilmiah, seperti penggunaan daun ketapang (Terminalia catappa) untuk menciptakan kondisi air alami serta fleksibilitas lokasi pemijahan, baik di dalam gua maupun di luar tempat perlindungan.
YouTube sebagai Arsip Pengetahuan Konservasi
Penelitian ini menegaskan bahwa YouTube dapat berfungsi sebagai arsip pengetahuan berbasis warga (citizen science). Video yang disertai narasi dan visual berkelanjutan memungkinkan peneliti mengamati perilaku ikan secara langsung, tanpa manipulasi laboratorium.
Meski demikian, para peneliti juga menyoroti keterbatasan konten hobiis, seperti kurangnya informasi parameter kualitas air (pH, suhu, dan konduktivitas). Oleh karena itu, dibutuhkan panduan dokumentasi yang lebih terstandar agar informasi yang dibagikan semakin bermanfaat bagi komunitas ilmiah dan konservasi.
Dampak Nyata bagi Konservasi dan Akuakultur
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi upaya konservasi ex situ. Penangkaran yang berhasil dapat:
- Mengurangi tekanan penangkapan dari alam,
- Menjaga keragaman genetik spesies,
- Mendukung reintroduksi ke habitat alami di masa depan.
Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara akademisi dan komunitas hobiis dapat menjadi strategi efektif dalam melestarikan ikan hias endemik Indonesia.
Peran UNAIR dalam Konservasi Berbasis Sains dan Masyarakat
Melalui penelitian ini, 51¶¯Âþ kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berdampak langsung bagi konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Pendekatan lintas disiplin dan pemanfaatan teknologi digital menjadi kunci untuk menjawab tantangan konservasi di era modern.
Penulis: Darmawan Setia Budi
Detail tulisan ini dapat dilihat di:
Budi, D. S., Priyadi, A., Teletchea, F., Permana, A., Octavera, A., & South, J. (2025). Can online videos posted by hobbyists be useful for conservation and science? A YouTube case study of the reproduction of the endangered white-edged fighting fish, Betta albimarginata. Journal of Fish Biology, September, 1“11.





