UNAIR NEWS Sebanyak 12 mahasiswa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (WANALA) 51动漫 ikut serta dalam kegiatan konservasi penyu hijau di Pantai Sukamade, Taman Nasional Meru Betiri, Jember, Jawa Timur. Kegiatan tersebut berlangsung selama delapan hari pada tanggal 1 sampai 8 Maret 2017.
Dalam kegiatan konservasi bertajuk 淪tudi Pelestarian Penyu Hijau dan Identifikasi Hutan Pantai di TN Meru Betiri, peserta dari WANALA bekerja sama dengan Kepolisian Resor Sukamade. Sekadar informasi, Pantai Sukamade adalah salah satu tempat pendaratan penyu hijau.
Dalam kegiatan konservasi penyu hijau, mereka menggunakan prinsip kerja 3P yakni pengolahan dan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan.
淜ami dari WANALA berangkat dengan membawa misi untuk belajar bagaimana cara melestarikan penyu. Menurut data, status keberadaan penyu hijau saat ini hampir punah, tutur Citra Nurul Ariadi, salah satu peserta konservasi.
Pada saat konservasi dilakukan, peserta dari WANALA didampingi oleh polisi hutan. Tim WANALA yang berasal dari berbagai program studi dibagi menjadi dua tim. Mereka akan menganalisis vegetasi dan mengamati penyu.
Tim analisis vegetasi bertugas mengumpulkan data tumbuhan di kawasan 渞umah penyu atau bibir pantai, sedangkan tim pengamatan penyu bertugas mengobservasi pola perilaku penyu yang mendarat untuk bertelur.
Inisiatif kegiatan tahunan UKM WANALA yang befokus untuk menyelematkan lingkungan hidup tersebut mendapat respon positif dari berbagai pihak. Pihak kepolisian setempat merasa terbantu dengan adanya kegiatan itu. 淪aya harap ada peneliti-peneliti dari UNAIR yang mau mampir kesini untuk membantu memberi solusi, kata Polres Sukamade.
Selama ini, konservasi penyu hijau memiliki sejumlah permasalahan. Tumbuhan waru dan pandan yang berada di area bibir pantai tak dapat beradaptasi sehingga jumlahnya berkurang. Selain itu, tumbuh-tumbuhan di wilayah Meru Betiri juga mengalami kerusakan akibat ulah penyu, babi hutan, serta kondisi cuaca.
Selain itu, penyu hijau sensitif terhadap cahaya sehingga petugas mengupayakan pantai terbebas dari adanya cahaya. Cahaya tersebut datang dari perahu nelayan yang menangkap benur di malam hari.
Dari hasil kegiatan konservasi yang dilakukan, tim WANALA akan mendokumentasikan kegiatan menjadi buku yang berisi catatan perjalanan serta data-data sebagai wujud sumbangsih pembelajaran lingkungan hidup. Harapannya, buku-buku tersebut dapat menambah wawasan pembaca terkait konservasi sekaligus menumbuhkan kecintaan dan keinginan untuk melestarikan penyu di Indonesia.
Penulis: Citra Nurul Ariadi (anggota UKM WANALA)
Editor: Defrina Sukma S





