Di era banjir informasi dan promosi digital, konsumen kini semakin skeptis terhadap berbagai klaim produk. Iklan yang menjanjikan hasil instan, diskon besar, atau manfaat berlebihan tak lagi mudah dipercaya begitu saja. Fenomena ini menjadi perhatian penting dalam berbagai kajian pemasaran dan perilaku konsumen.
Skeptisisme konsumen merujuk pada sikap ragu atau kritis terhadap pesan pemasaran, terutama yang dinilai tidak transparan atau berlebihan. Sikap ini muncul seiring meningkatnya pengalaman konsumen menghadapi produk yang tidak sesuai janji, serta maraknya iklan di media sosial dan platform digital. Konsumen yang skeptis cenderung lebih selektif sebelum membeli. Mereka akan mencari ulasan, membandingkan produk, dan mempertanyakan kredibilitas merek sebelum mengambil keputusan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa skeptisisme konsumen dapat berdampak positif maupun negatif. Di satu sisi, sikap kritis mendorong konsumen menjadi lebih cerdas dan terlindungi dari praktik pemasaran yang menyesatkan. Namun di sisi lain, skeptisisme yang tinggi dapat menurunkan kepercayaan terhadap merek, mengurangi efektivitas iklan, dan memengaruhi loyalitas pelanggan.
Kajian literatur terbaru juga menyoroti faktor-faktor yang memicu skeptisisme, seperti pengalaman buruk di masa lalu, rendahnya kepercayaan terhadap perusahaan, serta pengaruh media sosial dan ulasan daring. Transparansi, kejujuran, dan konsistensi pesan dinilai sebagai kunci untuk meredam keraguan konsumen. Ke depan, para peneliti mendorong adanya studi lanjutan untuk memahami bagaimana perusahaan dapat membangun kembali kepercayaan di tengah konsumen yang semakin kritis. Pendekatan pemasaran yang lebih etis, autentik, dan berbasis nilai diyakini akan menjadi strategi utama dalam menghadapi era skeptisisme konsumen.
Penulis: Marisya Mahdia Khoirina, Tanti Handriana, & Indrianawati Usman
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





