Zat besi sangat penting bagi tumbuh kembang anak, terutama untuk pembentukan darah, daya tahan tubuh, dan perkembangan otak. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, yang membuat anak mudah lelah, sering sakit, dan berisiko mengalami gangguan perkembangan jangka panjang. Anak usia 6“23 bulan termasuk kelompok yang paling rentan mengalami anemia.
Apa yang diteliti?
Penelitian ini analisis data sekunder dari 95.515 anak usia 6“23 bulan di 11 negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, menggunakan data Demographic and Health Survey (DHS) periode 2015“2022. Makanan kaya zat besi yang dinilai meliputi telur, daging, jeroan, dan ikan, berdasarkan konsumsi dalam 24 jam terakhir.
Bagaimana hasilnya?
Hasilnya menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% anak yang mengonsumsi makanan kaya zat besi. Artinya, 7 dari 10 anak belum mendapatkan asupan zat besi yang cukup dari makanannya. Terdapat perbedaan besar antarnegara: Konsumsi tertinggi yaitu Kamboja (±79%), konsumsi terendah: India (±21%), sedangkan Indonesia termasuk kelompok negara dengan peluang konsumsi yang lebih baik dibanding beberapa negara lain, tetapi tetap belum optimal.
Anak lebih mungkin mengonsumsi makanan kaya zat besi apabila berusia 12“23 bulan, pernah mendapatkan ASI eksklusif, lahir di fasilitas kesehatan, ibunya sedang hamil kembali, serta bukan anak pertama. Selain itu, anak yang tinggal di rumah tangga dengan akses media massa seperti televisi, radio, atau internet, serta yang tinggal di wilayah perkotaan, juga memiliki peluang konsumsi zat besi yang lebih baik. Menariknya, anak dari rumah tangga yang dikepalai perempuan cenderung lebih sering mengonsumsi makanan kaya zat besi, yang kemungkinan berkaitan dengan peran ibu yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan terkait pangan keluarga. Sebaliknya, anak yang tinggal di daerah pedesaan cenderung lebih jarang mengonsumsi makanan kaya zat besi, kemungkinan akibat keterbatasan akses, harga pangan yang relatif lebih mahal, serta kurangnya variasi makanan yang tersedia.
Apa artinya bagi kesehatan masyarakat?
Rendahnya konsumsi makanan kaya zat besi ini membantu menjelaskan mengapa anemia pada anak masih sangat tinggi di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Masalah ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tetapi juga oleh pengetahuan ibu, akses layanan kesehatan, paparan informasi gizi, serta kebiasaan makan keluarga.
Konsumsi makanan kaya zat besi pada anak usia 6“23 bulan di Asia Selatan dan Asia Tenggara masih sangat rendah dan tidak merata. Upaya serius dan terarah diperlukan agar anak-anak mendapatkan asupan zat besi yang cukup demi tumbuh kembang yang sehat dan optimal.
Artikel lengkap dapat dibaca di:
Penulis: Melaku Tadege Engidaw, Prasenjit Mondal, Patricia Lee, Qonita Rachmah, and Faruk Ahmed
Penulis artikel popular: Qonita Rachmah





