Memahami kecemasan terkait COVID-19 sangat penting sebagai dasar pertimbangan tindakan mitigasi saat pandemi. Beberapa studi melaporkan bahwa kondisi stress berhubungan dengan meningkatnya tindakan pencegahan, penggunaan obat dan herbal. Saat pandemi COVID-19 berlangsung, belum ada obat yang sepenuhnya dapat mengobati COVID-19, sehingga disinformasi perihal obat anti-COVID menyebar dengan tidak terkendali melalui media massa dan media sosial. Tekanan dari pandemi dan misinformasi dari internet, mendorong orang untuk membeli dan menimbun obat, vitamin, herbal, dll. Sayangnya, tindakan mengkonsumsi oba tatas inisiatif sendiri dapat menimbulkan masalah, seperti resistensi antibiotik, interaksi antar obat, interaksi obat dan herbal, dll. Di Indonesia, pengobatan individu dan konsumsi suplemen dan produk alami meningkat di antara ibu dengan anak usia sekolah, dan konsumsi ini tidak berhubungan dengan status kesehatan mental.
Karena belum adanya pengobatan yang efektif, para ahli merekomendasikan asupan vitamin, mineral dan obat-obatan herbal untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk menurunkan risiko dan tingkat keparahan infeksi. Suplementasi dengan vitamin tertentu (seperti vitamin A, B, C dan D), mineral (seperti selenium, seng dan besi), dan asam lemak omega-3 dapat digunakan sebagai pilihan pengobatan untuk pasien dengan COVID-19 dan sebagai terapi pencegahan terhadap infeksi paru-paru dan komplikasi medis lainnya. Suplementasi dapat berupa sumber potensial untuk menyediakan cara yang aman, efektif, dan hemat biaya untuk mengurangi risiko infeksi, tingkat keparahan gejala dan lama penyembuhan dengan efek samping yang minimal. Pemerintah Indonesia juga memberikan pengobatan gratis untuk pasien dengan COVID-19 tanpa gejala, yang merupakan multivitamin dan mineral (vitamin C, B dan E, dan seng) selama 14 hari atau vitamin C dan D selama 14 hari. Namun, untuk kasus ringan, obat gratisnya mirip dengan pasien tanpa gejala dengan penambahan favipiravir atau molnupiravir dan parasetamol bila perlu.
Fenomena saat pandemi yang lalu berdampak pada penggunaan obat dan suplemen. Satu penelitian di AS melaporkan peningkatan konsumsi suplemen di kalangan lansia, seperti seng dan vitamin C.13 Penjualan suplemen makanan dan nutraceutical di AS menunjukkan pertumbuhan tahunan sekitar 5% ($345 juta) pada tahun 2019. Namun demikian, selama enam minggu sebelum 5 April 2020, pertumbuhan meningkat sebesar 44% ($435 juta) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019. Permintaan dan konsumsi suplemen juga dilaporkan meningkat di beberapa negara, termasuk Swedia, Polandia dan Indonesia. Konsumsi ini dipengaruhi oleh faktor sosiodemografi, antara lain jenis kelamin, pendidikan, usia, dan mereka yang memiliki penyakit kronis.
Studi yang melibatkan 1006 responden individu dewasa di Indonesia membagi responden menjadi responden yang rentan, yaitu lansia dan yang memiliki penyakit penyerta, dan kelompok tidak rentan. Sebanyak 34,5% responden adalah individu yang rentan, dan sisanya termasuk individu tidak rentan. Kedua kelompok menunjukkan prevalensi konsumsi suplemen yang tinggi, dengan kelompok rentan menunjukkan kecenderungan yang lebih besar untuk
penggunaan rutin. Insiden masalah kesehatan mental pada kedua kelompok tidak berbeda secara signifikan (23-38%), dimana kecemasan lebih tinggi dibandingkan depresi dan stres. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa konsumsi suplemen berkaitan dengan status kesehatan mental responden. Beberapa faktor prediksi positif untuk perilaku konsumsi suplemen termasuk usia yang lebih tua, status ekonomi yang lebih tinggi, dan pendidikan yang lebih tinggi. Sedangkan usia yang lebih muda dan responden yang belum menikah lebih mungkin untuk mengembangkan masalah kesehatan mental.
Secara keseluruhan, konsumsi suplemen makanan meningkat selama pandemi dan dengan adanya potensi hubungan antara konsumsi suplemen dan kesehatan mental, makan mengontrol informasi dan regulasi yang benar mengenai suplemen sangat penting. Perhatian lebih terhadap kesehatan mental juga diperlukan karena dapat mempengaruhi perilaku pengobatan atas inisiatif sendiri.
Penulis: Annette d橝rqom, dr., M.Sc.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Yusof J, d’Arqom A, Andriani AP, Nasution MZ, Fatimah N, Mustika A, Handayani S, Syed Abdul Kadir SZ. Dietary Supplement Consumption and Mental Health in Indonesian Adults During Second Wave of COVID-19 Pandemic. Patient Prefer Adherence. 2023 Jul 24;17:1799-1811. doi: 10.2147/PPA.S415925. PMID: 37520062; PMCID: PMC10378467.





