51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Korelasi Antara Permukaan Hepatitis B KuantitatifKadar Asam Deoksiribonukleat Antigen dan Virus Hepatitis B

Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Secara global, diperkirakan 2 miliar orang telah terinfeksi virus hepatitis B dan sekitar 240 juta orang menderita infeksi HBV kronis. 3 Hingga saat ini, pengukuran kadar asam deoksiribonukleat HBV, yang mahal, memakan waktu, dan membutuhkan tenaga terlatih, merupakan metode evaluasi standar emas. Antigen permukaan hepatitis B kuantitatif saat ini sedang dipertimbangkan sebagai biomarker alternatif karena sederhana, murah, cepat, dan mencerminkan aktivitas transkripsi DNA sirkuler yang tertutup secara kovalen dalam inti sel hati. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menemukan korelasi antara kadar qHBsAg dan DNA HBV pada pasien hepatitis

B e antigen-positif dan HBeAg-negatif pada pasien hepatitis B dan untuk menentukan nilai cut-off terbaik untuk qHBsAg dalam memprediksi kadar DNA HBV yang tinggi.

Kriteria eksklusi termasuk koinfeksi dengan virus hepatitis C atau human immunodeficiency virus dan diagnosis hepatoma atau sirosis hati. CHB didasarkan pada kepositifan HBsAg selama >6 bulan. Selama masa penelitian, sampel darah yang disimpan dari pasien yang telah menjalani kuantifikasi DNA HBV disentrifugasi dan serum yang diperoleh diuji untuk HBsAg kualitatif. Alikuot ini akan menjalani pemeriksaan HBsAg kuantitatif, HBeAg, dan alanin transaminase jika jumlah sampel minimum telah tercapai.

Tes ini dikalibrasi dengan standar WHO dan memungkinkan kuantifikasi HBsAg dari 0,05 hingga 250 IU/mL. Sampel dengan kadar HBsAg> 0,08 IU/mL dianggap positif.

Antigen Hepatitis B e diukur dengan sandwich CLIA dua tempat menggunakan CL-series CLIA analyzer dan sampel dengan indeks cut-off 1,00 didefinisikan sebagai positif dan COI.

Oleh : Prof Dr. Aryati, dr. MS, Sp.PK(K)

Artikel ini bisa di akses di :

AKSES CEPAT