51动漫

51动漫 Official Website

Korelasi Konsentrasi Moxifloxacin dengan Interval QTc pada Pasien Tuberkulosis Rifampisin-Resisten yang Mendapat Paduan Jangka Pendek

Foto by Alodokter

Tuberkulosis resisten obat (TB-RO) terus menjadi ancaman untuk eliminasi TB secara global dan menyebabkan 465.000 kasus TB-RO pada tahun 2020. Indonesia saat ini berada pada ranking ke-5 untuk Negara dengan beban TB Multidrug-Resistant/Rifampicin-Resistant (TB-MDR/RR) tertinggi di dunia dengan jumlah 24.000 kasus TB-MDR/RR. Secara global, angka keberhasilan pengobatan untuk TB-MDR/RR adalah 57%. Angka keberhasilan pengobatan TB-MDR/RR di Indonesia adalah <50% akibat tingginya angka kematian dan putus berobat.

Pengobatan TB-MDR/RR menggunakan beberapa kombinasi obat anti-TB (OAT) lini ke-2, yang biasanya selama 18 bulan diketahui berhubungan dengan biaya pengobatan yang mahal, kejadian efek samping yang lebih besar, dan tingginya angka putus berobat. Pada tahun 2016, World Health Organization (WHO) merekomendasikan paduan jangka pendek untuk TB-MDR/RR selama 9-11 bulan yang menjadi prioritas untuk pasien TB-MDR/RR yang memenuhi kriteria eligibilitas. Paduan ini juga diharapkan dapat meningkatkan angka sukses pengobatan TB-MDR/RR. Meskipun paduan ini lebih singkat, namun efek samping pengobatan tetap terjadi yang menyebabkan interupsi pengobatan, penurunan kepatuhan pengobatan, dan berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas.

Pemanjangan interval QT merupakan salah satu efek samping paling umum pada pasien TB-MDR/RR yang mendapat pengobatan dengan paduan jangka pendek. Moxifloxacin yang merupakan salah satu fluoroquinolone merupakan salah satu komponen paduan jangka pendek yang telah diketahui dapat meningkatkan risiko pemanjangan QT. Pemanjangan interval QT merupakan efek samping serius yang menyebabkan aritmia jantung, termasuk Torsade de Pointes (TdP) dan menyebabkan kematian jantung mendadak. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi korelasi antara konsentrasi moxifloxacin dan interval QTc pada pasien TB-RR yang mendapat pengobatan dengan paduan jangka pendek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi moxifloxacin tidak memiliki korelasi dengan interval QTc. Selain melakukan monitoring interval QTc secara intens, klinisi sebaiknya juga mempertimbangkan variabel lain yang berpotensi meningkatkan risiko pemanjangan QTc pada pasien TB-RO yang mendapat pengobatan dengan paduan jangka pendek.

Penulis: Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., SpMK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di https://doi.org/10.1016/j.jctube.2022.100320.

Tutik Kusmiati, Ni Made Mertaniasih, Johanes Nugroho Eko Putranto, Budi Suprapti, Nadya Luthfah, Soedarsono Soedarsono, Winariani Koesoemoprodjo, Aryani Prawita Sari. Moxifloxacin concentration correlate with QTc interval in rifampicin-resistant tuberculosis patients on shorter treatment regimens. Journal of Clinical Tuberculosis and Other Mycobacterial Diseases 28 (2022) 100320.

AKSES CEPAT