51动漫

51动漫 Official Website

Kukuhkan Tujuh Guru Besar, Rektor UNAIR Tekankan Kerja Sama Riset Internasional

UNAIR NEWS Rektor 51动漫 (UNAIR), Prof Dr Mohammad Nasih SE MT AK, mengukuhkan tujuh guru besar baru. Bertambahnya guru besar tersebut semakin meningkatkan rekognisi kampus di tinggal regional maupun global. Rektor mengungkapkan, pengukuhan guru besar tersebut dapat meningkatkan kerja sama riset internasional.

Kegiatan pengukuhan berlangsung pada Rabu (4/10/2023) di Aula Garuda Mukti, 51动漫. Ketujuh guru besar tersebut ialah Prof Trias Mahmudiono SKM MPH GCAS PhD, Prof DrSanti Martini dr MKes, Prof DrRatna Dwi Wulandari SKM MKes, Prof Ira Nurmala SKM MPH PhD, Prof Dr Erma Safitri drh MSi, Prof Dr Epy Muhammad Luqman MSi Drh PAvet, serta Prof SIP MSi PhD.

淚ni pasti akan menambah kekuatan, energi, dan semangat 51动漫. Tentu saja tidak berhenti dipengukuhan, semangat dan kontribusi harus terus dituntut dan diberikan, agar dampak dari guru besar ini tampak nyata, ungkap rektor dalam pidatonya.

Kontribusi Bagi Dunia Pendidikan

Ia berharap semakin banyak peneliti dan pengajar kompeten, akan semakin meningkatkan kualitas kampus. Kini, menurut THE WUR 2024, UNAIR menduduki peringkat kedua sebagai kampus terbaik di Indonesia. Tentunya, ini merupakan kontribusi bersama dari seluruh sivitas akademika.

淚ni hasil bagaimana UNAIR berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Yang terpenting, bagaimana kontribusi kita bagi Indonesia dan internasional mendapatkan pengakuan, tambahnya.

Baginya, guru besar baru harus mampu berkontribusi lebih bagi keberlangsungan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam bidang riset. UNAIR perlu meningkatkan kerja sama riset dengan dunia internasional. Dari itu, semangat internasionalisasi harus terus ditingkatkan. Bukan hanya untuk kampus semata, tetapi untuk kebaikan semua.

Pendidikan Gizi dan Gaya Hidup Sehat

Dalam pidatonya, Rektor UNAIR juga membahas tentang persoalan stunting di Indonesia. Menurutnya, pendidikan tentang gizi harus diberikan secara massif kepada masyarakat, utamanya orang tua. Hal itu dikarenakan terdapat korelasi antara gizi dan stunting pada anak. Baginya, masyarakat Indonesia lebih mementingkan kenyang ketika makan, bukan kandungan gizinya.

淪eseorang biasanya jika memiliki persoalan tertentu di bidang kesehetan, biasanya akan kebablasan. Jadi, yang dulunya stunting dan kurus, ketika sudah dewasa justru obesitas. Ini perihal gaya hidup, ujarnya. (*)

Penulis : Afrizal Naufal Ghani

Editor  : Binti Q Masruroh

AKSES CEPAT