51动漫

51动漫 Official Website

Kuliah Tamu FEB UNAIR Hadirkan Akademisi Jepang, Bahas Pendidikan Vokasi

Pemaparan riset oleh Noa Yokogawa sebagai narasumber pada kegiatan kuliah tamu pada Selasa (9/9/2025) (dok: pribadi)
Pemaparan riset oleh Noa Yokogawa sebagai narasumber pada kegiatan kuliah tamu pada Selasa (9/9/2025) (dok: pribadi)

UNAIR NEWS – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dipandang sebagai jembatan singkat menciptakan lulusan yang siap masuk dunia kerja. Namun, saat ini diketahui dalam praktiknya banyak muncul ketidaksesuaian antara bidang studi dan pekerjaan yang digeluti. Departemen Ilmu Ekonomi 51动漫 (UNAIR) menggali topik ini dalam kuliah tamu bertajuk Does Vocational Education Align with the Labor Market Needs? Evidence from Indonesia.听

Kuliah tamu berlangsung pada Selasa (9/9/2025) secara luring di Aula Miendrowo, Gedung FEB Kampus Dharmawangsa-B dan menghadirkan Noa Yokogawa dari Graduate School of International Cooperation Studies, Kobe University. Dalam sesi kuliah tamu, Noa memaparkan risetnya dan menyoroti apakah pendidikan vokasi di Indonesia selaras dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Kemudian dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi upah. 

Fenomena Mismatch Antara Bidang Studi dan Pekerjaan Saat Ini

Pendidikan vokasi sangat penting di negara berkembang, karena dapat meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Noa menjelaskan bahwa dengan semakin bertambahnya jumlah pelajar di sekolah vokasi akan muncul ketidaksesuaian (mismatch) yang terdiri atas dua kategori, yaitu tidak seimbangnya tingkat pendidikan seseorang dengan tingkat pendidikan yang dibutuhkan perusahaan (vertikal) dan bidang studi tidak sesuai dengan bidang pekerjaan (horizontal). 

Pemerintah memandang pendidikan vokasi sebagai salah satu strategi mengurangi pengangguran. Sayangnya, banyak yang menganggap kuantitas lebih penting daripada kualitas lulusan SMK. Hal ini Noa ungkapkan, melalui penilaian kualitas dan efektivitas sistem pendidikan oleh World Bank.

“Menurut penilaian World Bank, skor pendidikan vokasi Indonesia hanya 1,8 dari skala 04, jauh dibawah Singapura (3,6) dan Korea (3,7). Data ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan vokasi di Indonesia masih tertinggal dalam menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar, ungkap Noa.

Dampak Mismatch 

Dalam pemaparannya, Noa menyampaikan hasil penelitian yang membahas horizontal mismatch dapat menurunkan upah pekerja sekitar 6%. Selain itu, bagi masyarakat dengan kategori overeducation dan horizontal mismatch dapat meningkatkan upah lebih tinggi daripada pekerja yang sesuai dengan bidang studinya. 

Lanjutnya, berdasarkan gender kondisi ketidaksesuaian (mismatch) dapat menurunkan upah lebih besar, sekitar 5,9% sedangkan laki-laki hanya sekitar 5%. 淒ampak mismatch berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan menghadapi keterbatasan akses ke pekerjaan bergaji tinggi, sehingga efek mismatch kurang terlihat, sementara laki-laki di bidang engineering dan manufacturing menghadapi penalti upah lebih besar karena keterampilan mereka sulit dialihkan, jelas Noa.

Implikasi Kebijakan 

Melalui sesi ini, Noa turut menyampaikan implikasi kebijakan yang perlu mendapat perhatian guna meningkatkan kualitas sekolah vokasi. Pertama, perlu peningkatan kemitraan antara sekolah dan industri guna membentuk kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Kedua, Noa juga memberikan contoh SMK-Pusat Keunggulan (PK) di Surabaya yaitu SMKN 2 Surabaya dengan fokus pengembangan kualitas dan relevansi lulusan. Terakhir, implementasi kurikulum ia anggap memberikan fleksibilitas, namun terdapat kendala kesenjangan infrastruktur dan kualitas guru. 

Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista

Editor: Ragil Kukuh Imanto

AKSES CEPAT