UNAIR NEWS – 51 (UNAIR) kembali menggelar kuliah tamu terkait sejarah kajian bahasa. Kuliah tamu tersebut terselenggara secara daring melalui Zoom Meeting pada Jumat (22/03/2024). Mahasiswa, dosen, maupun masyarakat umum yang berminat dalam kajian linguistik, sastra, maupun filologi ikut terlibat dalam acara itu.
Pembicara dalam webinar tersebut adalah Dr Suryadi, dosen pengajar dari dengan kepakaran bidang tradisi lisan, kesusastraan melayu klasik, dan budaya modern sastra Indonesia. Dr Suryadi membawakan materi berjudul Misionaris dan Gereja dalam Tradisi Perkamusan Indonesia.
Tradisi Perkamusan

Dr Suryadi membuka sesi pemaparan dengan menjelaskan topik mengenai misi-misi misionaris serta penginjilan dalam tradisi perkamusan bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Ia juga menyampaikan bahwa pembahasan kuliah tersebut tidak fokus pada aspek keagamaan, tetapi tentang keilmuan.
Tradisi perkamusan jelas menjadi bagian penting dalam tradisi bahasa-bahasa Nusantara. Berbagai pihak berperan dalam tradisi perkamusan di Indonesia. Selain misionaris dan gereja, ada sarjana, guru, bahkan militer yang mencatat bahasa-bahasa di tempat yang mereka singgahi, papar Dr Suryadi.
Sedikit menyinggung soal sejarah, Dr Suryadi menceritakan terkait bagaimana misi misionaris datang ke Nusantara pada era penjajahan VOC Belanda. Sampai hari ini misi penginjilan masih ada, meskipun sebarannya tidak seluas dulu lagi. Pengiriman jumlah misionaris tidak banyak, karena semua tempat di Indonesia dianggap mempunyai agama, ungkapnya.
Bahasa Adalah Jendela
Selanjutnya, menurut Dr Suryadi, bahasa adalah jendela bagi para penginjil untuk mendekati masyarakat yang hendak mereka kristenkan. Oleh karena itu, sambungnya, tugas utama para penginjil banyak berkaitan dengan bahasa.
Pada hakikatnya, tugas utama para penginjil berkelindan dengan bahasa, misalnya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat, mengarang buku pelajaran tentang kekristenan dalam bahasa setempat, dan menyerap pengetahuan tentang aspek budaya dan bahasa masyarakat setempat. Hal tersebut mereka lakukan dalam rangka mendukung kelancaran tugas mereka untuk mendekatkan diri dengan masyarakat setempat, jelas Dr Suryadi.
Kemudian, Dr Suryadi mengungkapkan bahwa tulisan yang disusun oleh penginjil Eropa pada masa lampau masih bisa dibaca hingga sekarang. Berbagai kamus penginjil Eropa itu, dan tulisan-tulisan lainnya tentang bahasa, alam, dan budaya masyarakat setempat yang masih dapat dibaca sampai sekarang adalah refleksi dari kematangan tradisi keberaksaraan Barat, yang tidak ada jeleknya kalau kita tiru, pungkasnya menutup pemaparan materi.
Penulis: Adinda Aulia Pratiwi
Editor : Yulia Rohmawati





