UNAIR NEWS – 37 persen pekerja merasa lebih fleksibel selama Work From Home (WFH). Maka, tidak heran apabila di masa modern ini banyak pekerja yang menjalankan pekerjaan secara hybrid yang tidak mengharuskan mereka selalu datang ke kantor. Akan tetapi perlu diakui bahwa terdapat beberapa tantangan untuk aspek ergonomi yang perlu diperhatikan.
Topik tersebut menjadi bahasan dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR pada Kamis (5/6/2025). Kuliah tamu tersebut mengundang dua narasumber yakni Dr Nurul Izzah Abd Rahman B Eng M Eng Sc Ph D dan Prof Dr Kulanthayan KC Mani dari Universiti Putra Malaysia (UPM).
Dr Nurul Izzah mengatakan bahwa pekerja hybrid berarti dapat melakukan pekerjaannya dari rumah tetapi dalam beberapa kondisi tetap mengharuskan pekerja untuk datang ke kantor. 淭etap mengharuskan pekerja untuk melakukan perjalanan bolak-balik ke kantor, terang dosen dari Malaysia itu. Ia menyebut dalam kondisi tersebut, pekerja perlu menyeimbangkan antara aspek ergonomi di rumah dan aspek keselamatan di jalanan menuju kantor.
Tantangan Ergonomi saat Bekerja dari Rumah
Dr Nurul Izzah menyebut bahwa bekerja dari rumah meningkatkan risiko cedera fisik sebab umumnya rumah memang tidak didesain sebagai tempat bekerja. 淪uhu, pencahayaan, dan desain stasiun kerja di rumah tidak diatur sesuai untuk kebutuhan bekerja, sebutnya. Hal tersebut berpengaruh terhadap kenyamanan pekerja.
Lebih lanjut, melakukan pekerjaan dari rumah juga menyebabkan tekanan kognitif dan psikososial. 淧enyebabnya bisa jadi adanya kesalahpahaman dalam komunikasi digital dengan rekan kerja dan manajemen waktu yang buruk, terangnya. Bekerja dari rumah umumnya membuat pekerja sulit membedakan waktu bekerja dan waktu istirahat sebab keduanya dilakukan di tempat yang sama.
Guna mengatasi hal tersebut, ia menyarankan pekerja hybrid untuk mengatur ulang stasiun kerja di rumah layaknya kantor. Lakukan pengaturan kondisi ruangan termasuk alat-alat kerja seperti kursi dan meja.
淪alah satu contohnya yaitu gunakan kursi adjustable yang bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh kita. Atur tempat kerja sehingga tubuh kita bekerja dalam posisi yang netral seperti kaki tidak menggantung, jelasnya.
Ia juga menyarankan untuk membuat jadwal bekerja di rumah, termasuk mengatur waktu untuk pengerjaan tugas-tugas mulai dari yang susah hingga yang mudah. Tak hanya itu, pekerja juga dapat membuat alarm pengingat untuk istirahat di sela-sela waktu kerja yang bisa diisi dengan kegiatan peregangan ringan. 淗al-hal tersebut akan membantu mengatur stres kerja saat WFH, tuturnya.
Keselamatan Pekerja saat di Jalan
Selain bekerja di rumah, pekerja hybrid juga tetap perlu berangkat ke kantor. Hal itu mengharuskan mereka untuk melakukan perjalanan komuter di jalanan yang mana dapat memunculkan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas. Oleh sebab itu, pekerja perlu memperhatikan aspek keselamatan di jalan raya.
Ia menyarankan pekerja untuk mulai menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi. Semakin banyak jumlah kendaraan di jalanan maka risiko terjadinya kecelakaan akan semakin besar. 淩isiko kecelakaan meningkat jika semakin banyak jumlah kendaraan dan semakin bervariasi ukuran kendaraan karena mereka saling berbagi area jalanan, terangnya.
Jika terpaksa harus menggunakan kendaraan pribadi, ia mengingatkan untuk selalu mematuhi peraturan lalu lintas, termasuk kelayakan kendaraan seperti lampu kendaraan.
Penulis: Septy Dwi Bahari Putri
Editor: Khefti Al Mawalia





