51动漫

51动漫 Official Website

Kuliah Tamu Sekolah Pascasarjana UNAIR Bahas Konsep Kota Kreatif

Dr Zaki Habibi pada kuliah tamu Sekolah Pascasarjana UNAIR bertajuk 淜ota Kreatif: Komunikasi, Regulasi, dan Teknologi, Kamis (10/11/2022).

UNAIR NEWS – Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk Kota Kreatif: Komunikasi, Regulasi, dan Teknologi pada Kamis (10/11/2022). Kuliah tamu kali ini menghadirkan Dr Zaki Habibi, dosen prodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII).

Pada kuliah tamu ini, Dr Zaki membahas mengenai konsep kota kreatif yang akhir-akhir ini banyak dijadikan acuan pemerintah daerah dalam membangun perekonomian kota. Konsep kota kreatif itu, terang Dr Zaki, mulai muncul pada akhir 90-an dan awal abad 21 di mana perekonomian dunia mulai tampak lesu. Perekonomian, yang pada masa itu hanya mengandalkan industri ekstraktif dan industri manufaktur, dinilai sudah tidak sustainable lagi.

淓konomi dunia di akhir 90-an atau menuju awal abad 21 ternyata disadari nggak bisa mengandalkan industri ekstraktif, misalnya tambang, minyak, dan mineral. Kedua, industri manufaktur atau rancang bangun seperti pabrik, karoseri, dan sebagainya juga mulai lesu terutama di belahan dunia kelas utama, terang Dr Zaki.

Didorong oleh kondisi perekonomian dunia itu, Richard Florida, salah seorang pakar studi perkotaan, menawarkan konsep kota kreatif. Konsep ini berfokus pada pengetahuan (knowledge) sebagai pijakan dalam membangun perekonomian sebuah kota.

淢emasuki milennium baru, ia (Richard Florida, Red) menawarkan konsep kelas kreatif untuk memberi warna kelas itu nggak statik, aristokrat, dan royal karena ada yang namanya knowledge. Knowledge bisa menjadi power. Nah, nanti kalau kelas-kelas kreatif itu berhimpun, kota itu bisa maju, ujar Dr Zaki.

Konsep kota kreatif itu, lanjutnya, memberikan kesadaran bahwa kota juga dapat menjadi sebuah entitas ekonomi. 淭adinya kan, bukan kota. Entitas ekonominya pabrik, di bawah regulasi nasional. Infrastruktur di kota nggak selalu sama. Kota nggak punya kemampuan untuk mengundang investasi dan sebagainya, tegas Dr Zaki.

Konsep kota kreatif ini lahir guna melihat bahwa ada potensi pintu masuk ekonomi baru yang disebut talenta, teknologi, dan toleransi (3 T). 淭erus kalo 3 T ini ngumpul di satu sentra, secara ruang fisik disebut creative urban space, ekonominya otomatis akan tumbuh. Begitu argumen Richard Florida, jelas Dr Zaki.

Meskipun kota kreatif dinilai mampu mengangkat perekonomian suatu kota, namun konsep ini mengalami kendala dalam pengaplikasiannya. Pengaplikasian ini dikritik termasuk oleh mereka yang tadinya memang paham bahwa kota ini akan menjadi pintu masuk ekonomi baru.

Creative class itu tidak mengakar di ruang kota. Contoh di Toronto dan Ontario. Mereka datang, heboh, satu dekade ada. Creative class itu ternyata, di luar kesadarannya Richard Florida, bergerak mencari di mana yang ada potensi berikutnya, pungkas Dr Zaki. (*)

Penulis: Agnes Ikandani

Editor: Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT