UNAIR NEWS – Kuliah tamu 51动漫 (UNAIR) mengulas upaya pembentukan kepemimpinan strategis sebagai bentuk Re-Balancing Power. Kuliah tamu oleh Pascasarjana UNAIR itu terselenggara di Hall Majapahit ASEEC Tower, Sabtu (23/12/2023).
Hadir dalam kuliah tamu tersebut Laksamana Madya TNI (Purn) Prof Dr Octavian Amarulla selaku Wakil Ketua Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Prof Octavian mengulas permasalahan riset kepemimpinan dan upaya pembentukan kepemimpinan strategis sebagai upaya mencapai Re-Balancing Power.
“Sebagai seorang pemimpin itu harus optimis tapi hati-hati, hati-hati tapi tetap optimis,” ujarnya.
Menurutnya prinsip pemimpin seperti itu akan mampu membawa pengaruh besar terhadap keberhasilan dari kepemimpinan. Prof Octavian sendiri menerangkan hal tersebut dengan berkaca pada permasalahan Laut China Selatan terhadap Indonesia.
Laut China Selatan ini penting untuk Indonesia mulai dari sektor penegakan kedaulatan teritorial sampai dengan faktor ekonomi yang menyumbangkan 34 persen sampai 45 persen ekspor impor non migas,” imbuhnya.

Lebih lanjut, pihaknya, Prof Octavian, menambahkan, namun di luar dari pentingnya Laut China Selatan tersebut terdapat ancaman besar bagi Indonesia. Hal itu seperti halnya pada sektor kemitraan yang berpotensi merusak mitra strategis. Ancaman lain seperti keamanan perbatasan maritim juga menjadi permasalahan yang krusial.
“Sekarang bisa kita lihat sendiri pelanggaran yang dilakukan sudah banyak mulai dari penangkapan ikan secara ilegal dan melakukan riset tanpa izin,” terangnya.
Prof Octavian menuturkan lebih lanjut spektrum ancaman non militer yang berlanjut akan membentuk skema ancaman baru pada sektor militer. Hal itu Ia gambarkan dengan munculnya terorisme dan radikalisme.
Kepemimpinan Strategis Re-Balancing Power
Dengan berbagai ancaman yang ada di Indonesia, Prof Octavian menekankan upaya pembentukan kepemimpinan strategis untuk mencapai Re-Balancing Power. Balance of Power sendiri merupakan teori hubungan Internasional yang menyatakan bahwa ketika kekuatan atau kepentingan negara besar dalam sistem Internasional. Jika sistem itu tidak seimbang maka akan terjadi upaya nyata untuk mengembalikan kekuatan melalui berbagai cara termasuk aksi militer.
“Dari teori ini kita bisa simpulkan bahwa ketidakseimbangan kekuatan yang kita miliki dapat menyebabkan ketidakstabilan dan memungkinkan konflik,” tegasnya.
Sambungnya, Prof Octavian, untuk mencapai balance power sendiri perlu adanya faktor dukungan kekuatan militer, aliansi dan koalisi, diplomasi dan negosiasi, serta meminimalisir ketidakstabilan. Dengan upaya menerapkan kepemimpinan strategis dengan menyiapkan faktor dukungan tersebut, maka Re-Balancing Power dapat tercapai.
Penulis: Rosita
Editor: Nuri Hermawan





