UNAIR NEWS – Menanggapi perkembangan dunia industri yang semakin cepat, 51动漫 (UNAIR) menggelar kuliah tamu. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Tarumanegara lantai 10, Gedung ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B UNAIR pada Kamis (20/2/2025).
Kuliah tamu bertajuk Bridging Academia to Industry itu menghadirkan Principle Kolej Tuanku Conselor Universiti Teknologi Malaya, Prof Ir TS Dr Sharul Kamal Bin Abdul Rahim sebagai pembicara. Prof Sharul mengungkapkan bahwa ia berfokus terhadap pengembangan desain antena.
淪alah satu yang menjadi masalah dalam negara tropis seperti Indonesia adalah lemahnya bandwidth, maka untuk meningkatkan dan memberikan frekuensi yang lebih tinggi. Alih-alih menggunakan satu antena, kita bisa menggunakan banyak antena. Jadi jika punya banyak elemen kita bisa punya banyak kekuatan, jelasnya.
Antena Transparan
Ia mengungkapkan bahwa penggunaan antena transparan ini sangat penting terutama di kota-kota besar. 淢isal kita pergi ke negara besar seperti Malaysia, Jakarta, atau ke Eropa, kita melihat banyak bangunan kaca. Disana akan mengalami Distracted Antena maka harus diubah menjadi antena transparan, ungkapnya.
Ia juga menyebutkan dalam risetnya antena ini memiliki performa yang lebih baik dan dikembangkan bersama dengan mahasiswanya. 淔rekuensinya bisa mencapai 3 GHz sampai 32 GHz, jadi sangat sangat luas jangkauannya. Kami juga berkolaborasi dengan mengirimkan tujuh mahasiswa saya ke Perancis, lanjutnya.
Transportasi Publik
Menurut Prof Sharul, salah satu permasalahan yang terjadi di Malaysia adalah masyarakatnya yang tidak mau menggunakan transportasi umum seperti bus. Hal itu karena sulitnya melacak keberadaan bus dan juga pemberhentiannya.
淪ebenarnya mereka punya sistem, namun sistem tersebut dimiliki oleh perusahaan lain, sehingga mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk menerapkan sistem tersebut. Jadi mereka datang ke kami dan kami buatkan suatu sistem, sebutnya.
Maka dari itu, ia membuatkan sebuah sistem untuk memudahkan masyarakat dalam melacak jalur transportasi umum. 淧ada dasarnya pada sistem kami memiliki GPS dan di dalam busnya memiliki sistem WiFi-nya sendiri yang dapat digunakan oleh penumpang dan RFID yang di pintunya, sehingga bisa mendeteksi berapa banyak penumpang yang masuk, ucapnya.
Penulis: Mohammad Adif Albarado
Editor: Khefti Al Mawalia





