UNAIR NEWS – Kondisi pandemi akhir-akhir ini semakin menuntut masyarakat Indonesia untuk beradaptasi menyongsong era normal baru, dibuktikan dengan kembalinya dilangsungkan aktivitas di luar rumah. Fenomena ini kemudian menjadi pemantik diskusi dalam webinar yang dilangsungkan oleh Forshare Fakultas Farmasi 51动漫 pada Sabtu (13/08/2022) dengan mengangkat tema, 淩esilience are Worrisome: Kontrol Emosimu dan Menjadi Lebih Baik.
Resiliensi secara psikologis, buka Atika Dian Ariana, S PSi, M Sc, adalah sesuatu yang tumbuh dan mampu mengalahkan tekanan yang dihadapi. 淚ndividu itu harus jatuh dan luka dulu kemudian baru dia bisa bangkit sehingga dengan kondisi resiliensinya akan mampu beradaptasi dan bertahan, paparnya.
Seiring berkembangnya zaman, Dosen Fakultas Psikologi UNAIR itu membeberkan bahwa resiliensi mengalami pergeseran makna. 淢anusia yang resilien atau tangguh tidak harus menunggu sesuatu yang negatif terjadi pada dirinya, tapi dia memiliki komitmen untuk benar-benar membuat dirinya bisa bertahan di tengah apapun tekanan yang dihadapi, simpulnya.
Berhubungan dengan hal tersebut, Atika membuka forum diskusi bagi audiens untuk mendiskusikan seberapa penting resiliensi bagi tiap individu. Ia menarik kesimpulan bahwa resiliensi penting untuk meningkatkan capaian belajar dan kinerja akademik, meningkatkan peran sosial, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta mengurangi perilaku berisiko, seperti merokok, mabuk, narkoba, dan lain-lain.
Karenanya, Atika juga mengajak audiens untuk mengenali aspek pembentuk resiliensi sebelum membahas cara membangun resiliensi itu sendiri. 淎nda harus mempunyai tujuan yang jelas dan achievable, harus tetap mengendalikan emosi dalam segala situasi, memiliki pemikiran yang baik untuk mencari jalan keluar, menjaga kesehatan fisik dan mental, memiliki komitmen yang kuat, serta mempertahankan relasi sosial, paparnya.
American Psychological Association (2020) menerangkan lima strategi utama dalam membangun resiliensi, yaitu dengan membangun koneksi sosial, menjaga kesehatan, menemukan visi, mengembangkan pikiran positif, dan mencari bantuan jika memang membutuhkannya.
淩esiliensi itu bukan berarti kita datar-datar saja dalam menghadapi persoalan. Kita mungkin akan selalu merasakan jatuh, terpuruk, terluka, tapi yang terpenting kita harus berlayar di tengah badai. Kita harus terus berjuang untuk sampai ke daratan selanjutnya, mencapai tujuan yang ingin kita raih, bukan berarti hanya bertahan di situasi tersebut, tutupnya.
Penulis: Leivina Ariani Sugiharto Putri
Editor: Nuri Hermawan





