Kurs rupiah makin keok terhadap keperkasaan dolar. Nilai tukar uang saat ini berada pada level terendah dalam 4 tahun terakhir atau sejak April 2020 lalu. Per hari Rabu (24/4/2024) nilai tukar rupiah ke dolar Amerika berada di angka 16.150 USD/IDR. Nilai ini bahkan sudah mendekati nominal saat pandemi di tahun 2020 yang menyentuh angka 16.995 USD/IDR akibat virus yang terjadi di seluruh dunia.
Penyebab Tersungkurnya Kurs Rupiah
Turunnya kurs rupiah memberi dampak yang berarti bagi masyarakat Indonesia. Persoalan naik turunnya nilai kurs Rupiah bukanlah persoalan sederhana. Banyak faktor yang menjadi penyebab terhadap pelemahan nilai rupiah baik dari sisi internal maupun eksternal. Disebut-sebut momen merosotnya nilai tukar mata uang Indonesia ke dolar ini karena dua faktor.
Pertama, persoalan ini digadang-gadang mempunyai keterkaitan dengan konflik antara Israel dan Iran. Seperti yang diberitakan, Iran melakukan serangan kepada Israel dengan meluncurkan ratusan drone dan rudal ke wilayah Israel beberapa waktu lalu. Serangan ini memiliki banyak dampak bagi seluruh dunia. Untuk Indonesia, serangan ini dapat berpengaruh serius pada aspek ekonomi termasuk nilai tukar rupiah. Hal ini disebabkan karena Iran merupakan penghasil minyak, produksi dan distribusi terganggu membuat harga minyak melonjak. Investor asing di Indonesia juga dapat kabur karena meningkatnya risiko geopolitik yang memanas.
Kedua, melemahnya nilai tukar rupiah ini terjadi ditengah penguatan indeks dolar Amerika yang mencapai level tertinggi sejak November 2023. Penguatan indeks dolar ini dipicu dari tingginya suku bunga acuan The Fed yang disebabkan tingginya tingkat inflasi di Amerika Serikat. Pada periode Maret 2024 tingkat inflasi tahunan di Amerika Serikat mencapai 3,5%.
Angka tersebut masih di atas proyeksi pasar yang berharap inflasi Amerika bisa melandai ke 3,4% meskipun nilai tersebut masih jauh dari target The Fed Bank Sentral Amerika Serikat yaitu di bawah 2%. Dengan tingginya tingkat inflasi di Amerika Serikat, pasar memprediksi The Fed belum akan menurunkan suku bunga dolar dan masih akan tetap mempertahankannya di rentan 5,25-5,5%, setidaknya hingga bulan September 2024 araknya repatriasi dividen di kalangan investor.
Ketiga, dari sisi domestik ada kebutuhan dolar yang cukup tinggi. Seperti yang kita tahu sebelum bulan Mei sampai Juni ini, Indonesia melakukan serangkaian kegiatan yang secara tidak langsung berimbas pada melemahnya kurs rupiah. Kegiatan ini misalnya pembayaran utang luar negeri dan pembayaran dividen. Apabila kita compare, beberapa waktu lalu dolar pernah menguat 1,5% dalam satu bulannya, tapi rupiah justru dapat terjun bebas sampai 2% dalam satu hari. Jadi anjloknya kurs rupiah ini tidak hanya disebabkan karena faktor kekuatan dolar, tapi juga ada faktor dari sisi domestik yang tetap harus diwaspadai.
Dampak di Sektor Perindustrian
Anjloknya kurs rupiah diduga akan terus berlanjut sampai beberapa waktu kedepan. Pelemahan nilai tukar rupiah ini berimbas pada semua sektor di Indonesia. Setidaknya ada beberapa dampak yang akan terjadi apabila kurs rupiah terus melemah yaitu menurunnya kepercayaan investor untuk berinvestasi di Indonesia, naiknya harga barang impor, dan inflasi besar-besaran di Indonesia.
Salah satu rencana pemerintah untuk menanggapi hal ini adalah dengan menaikkan PPN yang akan berdampak besar pada sektor properti di Indonesia. Menanggapi rencana ini, Sunarsip selaku Chief Economist IEI, menghimbau untuk para pelaku di sektor properti harus memanage pengeluaran dan melakukan mitigasi terhadap kenaikan-kenaikan biaya yang mungkin terjadi di masa yang akan datang.
Aloysius Budi Santoso yang merupakan Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia beranggapan bahwa industri perdagangan merupakan salah satu sektor yang paling terdampak akibat tren anjloknya kurs rupiah ini. Tak dapat dipungkiri, sektor inilah yang sangat mengandalkan komoditas pembelian dari impor yang kemudian dijual dalam rupiah. Sektor paling terdampak kedua adalah sektor manufaktur. Sama halnya dengan sektor perdagangan, sektor ini juga melakukan pembelian bahan baku dengan cara impor.
Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia buka suara menanggapi kondisi ini. Setelah menghadiri rapat dengan Presiden Jokowi di istana, Perry menyampaikan bahwa Bank Indonesia akan selalu berada di pasar untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, dan tak menutup kemungkinan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga sebagai salah satu cara meredam fluktuasi rupiah. Bank Indonesia juga akan terus berkoordinasi dengan sektor fiskal dalam hal ini adalah kementerian keuangan untuk bersama-sama mengawal rupiah tak makin keok dihajar dolar.
Penulis: HestiPrihadini





