UNAIR NEWS Tropical Disease Diagnostic Center (TDDC) UNAIR berhasil mengembangkan metode untuk melihat jenis kelamin pada unggas monomorfik (hewan yang sulit dibedakan hanya dari struktur anatomi dan morfologi). Pusat studi yang bermarkas di Institute Tropical Diseases (ITD) tersebut sanggup memastikan, apakah seekor unggas berjenis betina atau jantan, hanya dengan melihat bulunya.
Peternak burung Cucak Ruwo asal Wisma Mukti Sukolilo Surabaya bernama Gunawan sudah membuktikan hal itu. Dia menyebutkan, pengembangan teknologi yang diinisiasi oleh UNAIR itu sudah sukses menerobos banyak mitos. Selama ini, penentuan jenis kelamin Cucak Rowo sekadar mengacu pada kebiasaan.
Misalnya, ada yang bilang kalau kepala burung besar, maka ia jantan. Atau, jika buntutnya pendek, ia betina. Perspektif itu nyaris seratus persen salah. Mungkin, kata Gunawan, yang paling mendekati benar hanya soal suara. Ada perbedaan suara antara burung jantan dan betina.
Persoalannya, suara itu hanya dapat dideteksi oleh orang yang sudah lama bergelut di bidang ini. Problem kembali bertambah karena suara tersebut hanya terdengar saat burung birahi. 淵ang jadi masalah, ada burung jantan yang suka ikut-ikut suara betina. Jadi, telaah melalui aspek suara ini cukup rumit, papar dia.
Nah, ketidaksanggupan untuk menentukan jenis kelamin burung ini memiliki imbas turunan yang beragam. Mitos-mitos yang tak dapat dipertanggungjawabkan makin mengemuka. Contohnya, ada yang mengatakan kalau burung Cucak Rowo sulit diternak, gampang stress dan lain sebagainya.
淢enurut saya, kunci sukses ternak Cucak Rowo itu adalah mengetahui jenis kelamin. Kalau sudah dapat jenis kelamin, akan lebih mudah menjodohkan. Keuntungan ekonomisnya jadi jelas dan bisa diukur. Nah, di luar sana banyak yang masih pakai pendekatan tebak-tebakan. Jadi, satu kandang itu bisa diisi burung-burung homo atau lesbi. Otomatis tidak bisa bertelur dan berkembang biak, terang pria yang sudah sejak 2014 memanfaatkan teknologi tersebut.
Peneliti TDDC Eduardus Bimo Aksono menjelaskan, metode yang digunakan UNAIR tergolong sederhana dan tidak berbahaya. Tidak ada pengambilan sampel darah maupun rekayasa pada unggas yang akan didiagnosa. Cukup pakai bulu yang sebelumnya melekat pada hewan. Bulu yang jatuh pun bisa dijadikan objek.
Teknologi ini tidak hanya bisa digunakan pada Cucak Rowo. Namun juga, pada unggas yang lain. 淒ari bulu itu, kami akan melihat kromosom. Kalau kromosomnya heterozigot atau X dan W, berarti betina. Jika kromosomnya homozigot atau Z, berarti jantan, kata pria yang menjabat sebagai Sekretars Pusat Informasi dan Humas UNAIR tersebut.
Dosen Fakultas Kedokteran Hewan itu mengungkapkan, metode ini sudah terbukti bermanfaat di masyarakat. Dari segi ekonomi, sudah mampu menaikkan nilai jual burung. Dengan demikian, sumbangsih kongkretnya dapat dirasakan langsung bagi peternak atau penghobi burung. (*)
Penulis: Rio F. Rachman





