51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Lalat Botol Hijau Agen Polinasi Tumbuhan Rempah Bawang Merah

Foto oleh insecta.pro

Bawang merah (Allium cepa) merupakan salah satu rempah utama yang dimanfaatkan sebagai makanan dan obat tradisional dan pertanian utama produk untuk beberapa daerah di Indonesia. Selama 2015“2017, total produksi bawang merah di Indonesia meningkat dari 1,3 juta menjadi 1,5 juta ton per hektar. Meningkatkan pasar permintaan menambah tekanan pada permintaan bibit untuk budidaya. Di Indonesia, budidaya bawang merah sangat bergantung pada umbi sebagai sumber bibit, dengan umbi memiliki beberapa kelemahan sebagai sumber bibit karena tingginya kerentanan penyakit, biaya tinggi (sebagai pengganti umbi bibit bohlam yang ditujukan untuk konsumsi), umur simpan rendah dan tidak rata kualitas. Alternatif untuk mengatasi hal tersebut kelemahannya adalah benih bawang merah sejati.

Karena beberapa masalah dengan kuantitas dan kualitas benih diproduksi di dalam negeri, Indonesia mengimpor sekitar 1.190 ton benih bawang merah seharga sekitar USD 1,15 (Badan Pusat Statistik, 2017). Permintaan benih meningkat dan menurun nilai tukar moneter menjadi perhatian. Beberapa studi telah dilakukan untuk menghasilkan benih kultivar local bawang merah dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi.

Beberapa tantangan terbesar dalam benih bawang merah sejati produksi adalah produksi bunga dan tingkat keberhasilan penyerbukan karena bawang merah membutuhkan penyerbukan (polinasi) silang untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas benih yang diinginkan dan sangat bergantung pada agen penyerbuk (pollinator) karena perbedaan waktu kematangan antara bunga jantan dan betina, sementara kurangnya penyerbukan silang sangat berdampak pada tingkat produksi benih yang bisa lebih rendah dari 10%.

Dalam penelitian ini, kami berhasil menghasilkan pembungaan kultivar impor di Indonesia dengan meniru produksinya kondisi asal, di Afrika Selatan, dengan menerapkan tekanan suhu rendah (proses yang disebut vernalisasi) dan spesifik hormon pertumbuhan untuk bohlam dan tenaga kerja manusia adalah dimanfaatkan untuk penyerbukan. Tantangan utama bawang merah lokal produksi benih menurunkan biaya ke tingkat yang terjangkau oleh petani lokal. Studi ini berfokus pada biaya penting produksi tentang penyerbukan. Fitur bawang merah kecil, tidak terspesialisasi hijau, kuning, atau bunga putih di umbels, dengan kumpulan serangga yang beragam, termasuk lebah, lalat, tawon, dan kumbang, yang berkontribusi terhadap penyerbukan di lapangan terbuka. Studi tentang produksi benih kultivar bawang merah menunjukkan pentingnya serangga untuk penyerbukan silang. Di antara serangga tropis ini, lebah madu lokal (Keluarga: Apidae), seperti Apis cerana F., Apis dorsata F. dan Apis florea F. dan lebah madu impor Eropa (Apis mellifera L.) adalah penyerbuk paling dominan yang dipasok oleh sekitarnya agroekosistem.

Namun, secara konsisten mempertahankan populasi ini serangga sulit karena ukuran koloninya yang besar. Lebih-lebih lagi, perilaku agresif mereka membuat mereka tidak diinginkan di sistem produksi tertutup. Alternatifnya adalah dengan memanfaatkan jenis serangga yang mudah ditangani, perawatannya rendah, kurang agresif dan tersedia secara lokal, seperti botol hijau lalat dan lebah yang tidak bersengat. Lalat botol hijau biasa (Lucilia sericata Meigen), yang dikenal sebagai salah satu mayor penyerbuk bawang merah, memiliki umur yang pendek, dapat diproduksi dalam jumlah besar di fasilitas dalam ruangan dan dapat diterapkan sebagai penyerbuk dalam ruangan. Hewan ini telah digunakan sebagai bagian dari bawang merah local produksi benih dan telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. Namun, informasinya kurang mengenai kultivar impor dan ada kemungkinan berbeda tanggapan karena interaksi antara tanaman non-asli dan penyerbuk asli yang mungkin positif  atau negatif. Berdasarkan fakta-fakta ini, penelitian saat ini menyelidiki potensi menggunakan serangga ini sebagai pengganti untuk penyerbukan tangan.

Dari pengamatan dan pengukuran dalam penelitian ini dihasilkan data bahwa Lalat botol hijau mengunjungi lebih banyak bunga (15,2 ± 4,5 bunga/menit) dan menghabiskan, secara signifikan, lebih banyak waktu pada bunga (135 ± 46 detik/bunga) daripada lebah tak bersengat (5 ± 3 bunga/menit dan 81 ± 18 detik/bunga, masing-masing). Keberhasilan penyerbukan tertinggi dan nilai kualitas benih dicatat untuk kelompok penyerbukan tangan (masing-masing 61,91% dan 1,22 g) meskipun ini tidak signifikan berbeda dengan hasil yang menggunakan 500 lalat botol hijau (masing-masing 60,56% dan 1,09 g). Namun, benih yang dihasilkan menggunakan penyerbukan lebah tanpa sengat memiliki tingkat perkecambahan yang jauh lebih tinggi. Lalat botol hijau dan lebah tak bersengat dapat diterapkan (sebagian atau seluruhnya) sebagai pengganti penyerbukan tangan untuk produksi impor. Namun, karena kemungkinan konsekuensi negatif dari produksi massal lalat botol hijau, maka masih diperlukan kajian dampak lainnya dengan keberadaan lalat ini sehingga sisi manfaatnya dapat lebih diutamakan.

Meski lalat memiliki konotasi negatif, namun terbukti bisa menjadi penyerbuk yang baik. Hal ini menjadi dasar penting untuk dapat mengandalkan lalat sebagai alternatif penyerbuk karena kinerja lebah yang dinilai terus menurun.

Penulis: Hery Purnobasuki

Sumber:

AKSES CEPAT