51动漫

51动漫 Official Website

Laporan Kasus dan Tinjauan Kepustakaan pada Pasien Diabetes Melitus dengan Komplikasi Necrotizing Fasciitis

Foto oleh healthyhabits.care

Necrotizing fasciitis (NF) adalah suatu kondisi yang mengancam jiwa suatu infeksi yang menyebar dengan cepat disertai inflamasi dan nekrosis luas pada kulit, jaringan dibawah kulit dan fascia superfisial dengan atau tanpa selulitis. Kasus tersebut sangat jarang dijumpai dengan prevalensi sekitar 0,3-15 kasus per 100.000 penduduk. Kasus NF ini perlu dikenali dan diobati secara cepat dan tepat, karena kondisi pengobatan yang terlambat akan menyebabkan peningkatan risiko kematian.

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit yang menjadi dasar terjadinya NF, dimana DM ini dijumpai pada 44.572.3% kasus NF. Pada pasien DM akan terjadi peningkatan risiko terjadinya amputasi, disamping itu pada pasien DM lebih rentan mengalami infeksi polimikroba (mikroba dengan berbagai jenis) maupun monomikroba (mikroba tunggal). Pasien DM juga menunjukkan gangguan penyembuhan luka, serta rentan terhadap infeksi yang menyebar ke jaringan dibawah kulit. Pada kasus NF ini kita harus ingat singkatan dari STAFF yaitu Subcutaneous, artinya kita harus evaluasi jaringan dibawah kulit. Thickening, artinya kita harus melihat ketebalan jaringan bawah kulit. Air, artinya kita harus memeriksa ada tindaknya udara atau gas dibawah kulit. Fascial Fluid, artinya kita juga melihat adanya cairan pada fascia.

Diagnosis NF sedini dan seakurat mungkin merupakan sesuatu yang sangat absolut dibutuhkan, namun demikian terkadang sulit untuk dibedakan dengan kondisi lain seperti selulitis, abses atau bisul. Diagnosis yang terlambat akan berakibat fatal dengan peningkatan kejadian pembedahan yang lebih luas, peningkatan risiko amputasi dan kematian. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk membantu mengenali NF dengan cepat ini adalah dengan skor Laboratory Risk Indicator for Necrotizing Fasciitis (LRINEC). Skor LRINEC 鈮 6 merupakan prediktor prognosis pasien yang buruk karena berhubungan dengan meningkatnya mortalitas, risiko amputasi dan peningkatan kebutuhan ventilasi mekanik. Standar baku emas diagnosis NF adalah melalui pembedahan eksplorasi yang akan menjumpai cairan seperti 渁ir cucian piring atau pus yang berbau, nekrosis, perdarahan tidak terlalu banyak dan hilangnya resistensi normal fascia pada diseksi dengan jari. Biopsi intra-operatif dengan pengecatan Gram dapat berguna pada beberapa kasus, namun tidak selalu dijumpai.  

Pengobatan dengan antibiotik harus secepat mungkin diberikan. Pilihan antibiotic bisa diberikan yang memiliki spektrum antimikroba yang luas, sambal menunggu hasil kultur jaringan. Pada hasil kultur yang menunjukkan hasil kuman golongan Streptococcus pyogenes, maka terdapat kesepakatan untuk memberikan kombinasi penicillin G dan clindamycin dosis tinggi. Sedangkan rekomendasi untuk terapi antibiotik spektrum luas yang disarankan adalah vancomycin atau linezolid (karena memiliki efek pada eksotoksin)  ditambah dengan piperacillin-tazobactam atau carbapenem untuk menekan produksi toksin streptococcal dan sitokin proinflamasi.

Modalitas utama pengobatan pada kasus ini adalah dilakukan pembersihan jaringan dengan pembedahan yang sifatnya darurat atau emergensi. Terapi pembedahan yang dilakukan biasanya meliputi debridement, necrosectomy, dan fasciotomy. Pembedahan harus dilakukan sedini mungkin karena merupakan intervensi penyelamatan jiwa. Penundaan lebih dari 12 jam pada kasus yang fulminan atau manifestasinya berat akan menyebabkan kematian. Pembersihan jaringan dengan pembedahan dapat diulang setelah 24 jam kemudian tergantung pada perjalanan klinis, kondisi infeksi dan nekrosis serta fungsi vital tubuh lainnya.

Penelitian ini melaporkan dua kasus NF pada wanita 56 tahun dan pria 38 tahun yang menunjukkan tanda dan gejala khas. Keduanya datang ke rumah sakit dengan nekrosis kulit pada ekstremitas bawah, syok sepsis, dan kegagalan multiorgan. Berdasarkan presentasi klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan, diagnosis NF dibuat. Skor LRINEC digunakan untuk membedakan NF dari infeksi jaringan lunak lainnya. Kedua pasien dirawat dengan antibiotik empiris, debridement bedah dan direncanakan untuk diamputasi, tetapi pasien secara hemodinamik tidak stabil dan meninggal sebelum amputasi dilanjutkan.

Hal ini menunjukkan sangat penting untuk melakukan intervensi yang agresif dan eksisi semua  jaringan nekrotik dengan margin 5-10 mm. Meskipun beberapa penelitian tidak menemukan korelasi yang signifikan antara intervensi bedah sedini mungkin dengan luaran klinis, namun secara global keterlambatan dalam diagnosis dan  intervensi pembedahan berkaitan dengan peningkatan angka kematian. Sehingga melakukan deteksi NF sedini mungkin dan intervensi pembedahan menjadi hal yang krusial, disamping tentu saja menjaga agar kontrol glikemik pasien diabetes tetap terjaga baik untuk pencegahan NF merupakan hal yang paling utama.

Sebagai kesimpulan akhir laporan kasus ini, NF merupakan penyakit langka yang sering ditemukan pada penderita diabetes melitus. Diagnosis dini NF dapat meminimalkan terjadinya kematian dimana diagnosis NF didukung oleh skor LRINEC yang bisa membantu membedakan dengan infeksi lainnya. Penatalaksanaan NF meliputi antibiotik empiris, debridement, dan amputasi, serta menjaga control glikemik pasien merupakan hal yang perlu menjadi perhatian dan menentukan prognosis pasien.

Penulis: Hermina Novida, dr., Sp.PD.

Link:

AKSES CEPAT