51动漫

51动漫 Official Website

Laporan Kasus Difteri di Jawa Timur selama 11 Tahun

Ilustrasi difteri
Sumber: Halodoc

Penyakit difteri adalah penyakit menular yang mematikan dan memakan banyak korban, terutama pada era sebelum vaksin ditemukan. Indonesia saat ini adalah peringkat 2 dunia dalam hal jumlah penderita, setelah India. Di Indonesia, Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama.

Wabah difteri Jawa Timur pernah dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada periode 2011-2014. Sekalipun banyak upaya telah dilakukan, kasus tidak sepenuhnya bisa dihilangkan dan masih menjadi persoalan hingga saat ini.

Penyakit difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae yang merupakan bakteri gram positif, dan ditularkan terutama melalui tetesan atau percikan ludah saat berbicara, batuk, dan bersin. Tanda utama adalah adanya bercak putih yang biasanya muncul di rongga mulut. Bercak ini putih kotor, menyatu, biasanya di dinding tenggorokan, dan jika dilepas bisa berdarah. Bercak disebabkan oleh racun yang dikeluarkan kuman dan kemudiian merusak sel. Racun ini bisa menyebar dan kemudian menyerang ogan lain, terutama jantung. Sebagian besar kematian pada kasus difteri adalah karena racun menyerang jantung. Pencegahan utama adalah melalui imunisasi yang telah berusia lebih dari 100 tahun dengan data keamanan yang sangat baik.

Penelitian potong lintang ini menggunakan data yang dikumpulkan di seluruh dinas kesehatan kabupaten kota se Jawa Timur pada periode 2013-2023. Data yang dikumpulkan adalah data demografi, riwayat imunisasi, kondisi klinis, pemeriksaan laboratorium, dan tatalaksana. Seluruh data dikumpulkan di Dinas Kesehatan Provinsi setiap minggu dan bulan. Apabila ada kasus, laporan bisa diperbaharui setiap hari. Kriteria inklusi mencakup semua orang berusia kurang dari 18 tahun yang tercantum dalam data di Dinas Kesehatan Provinsi.  Komite Etik Penelitiian Kesehatan RSUD Dr. Soetomo memberikan persetujuan pembebasan sertifikat etik untuk penelitian ini.

Hasil penelitian menunjukkan 4009 kasus selama 11 tahun, dan 2921 di antaranya berusia kurang dari 18 tahun. Laki-laki mencakup 60% kasus. Angka kematian adalah 2,4%. Lima daerah dengan jumlah kasus terbaanyak adalah Surabaya, Sidoarjo, Kabupaten Blitar, Kota Malang, dan Kabupaten Malang. Sebagian besar korban tidak diimunisasi atau diimunisasi namun tidak lengkap. Selama pandemi COVIID-19 jumlah kasus menurun drastis, terutama pada 2020-2021. Mulai tahun 2022 kasus difteri meningkat kembali.  

Kasus di Jawa Timur didominasi wilayah timur dan utara sejalan dengan hasil cakupan imunisasi difteri. Beberapa faktor risiko seperti masalah budaya serta maraknya hoax di media sosial ikut menjadi penyebab persoalan rendahnya imunisasi. Sebenarnya telah beberapa kali di provinsi ini diadakan Outbreak Response Immunization (ORI) namun tingginya kasus difteri memerlukan penanganan yang lebih komprehensif. Upaya perbaikan di masa selanjutnya memerlukan upaya yang lebih keras yang harus melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan.

Penulis: Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM (TP).,Sp.A(K)

Link:

Baca juga: Mencegah Penyakit Difteri pada Anak

AKSES CEPAT