UNAIR NEWS Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫, Prof. Dr. R. Tatang Santanu Adikara, MS, drh., yang baru dikukuhkan Rabu (24/5) lalu memiliki gagasan tentang pengembangan soft laser untuk titik-titik akupunktur pada hewan. Guru Besar FKH aktif ke-26 itu menyebutnya laserpunktur.
Laserpunktur temuan Prof Tatang ini berfungsi menentukan titik akupunktur yang bisa diterapkan pada makhluk hidup, utamanya hewan. Menurutnya, titik akupunktur bisa dilacak dengan listrik sekecil apapun. Jika ditekankan pada permukaan tubuh, saat laserpunktur berbunyi, maka disitulah letak titik akupunktur.
淒engan catatan, seluruh permukaan (tubuh) harus kering ketika laserpunktur difungsikan, ujar Tatang dalam konferensi pers pengukuhan guru besar Selasa (23/5).
Penemuan Tatang dan tim membuktikan, titik akupunktur itu jika dirangsang dengan energi antara 0,1-0,5 Joule akan menyebabkan terjadinya stimulasi. Sedangkan, jika rangsangan energi lebih besar dari 0,5 Joule, akan menyebabkan sedasi. Permainan stimulasi dan sedasi itulah yang dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan hewan atau perawatan kesehatan dan peningkatan produktivitas.
Selain di bidang kesehatan, laserpunktur dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan atau penggemukan ternak.
淜ami sudah mendapatkan titik akupunktur yang berhubungan dengan organ. Misalkan pada meridian atau pada titik organ paru-paru, jantung, dan lambung atau pencernaan, kita lakukan stimulasi, ternyata terjadi peningkatan berat badan, ujar Prof Tatang.
Pada hewan, peningkatan tersebut cukup signifikan, yakni antara 0.9-1.00 kg per hari. Hal itu menunjukkan bahwa rangsangan atau stimulasi pada titik-titik akupunktur bisa meningkatkan pertumbuhan. Sedangkan untuk reproduksi, ternyata rangsangan pada titik akupunktur bisa meningkatkan hormon reproduksi, dan hal itu terjadi peningkatan yang signifikan.
Prof Tatang memaparkan, ia dan tim telah mendirikan grup bernama Kelompok IPTEK Akupunktur Veteriner. Kegiatan yang dilakukan antara lain membantu pemerintah dalam upaya membesarkan dan menyehatkan ternak.
淜ita bisa bikin berahi massal, bunting massal, dan hamil massal. Karena kalau kita lakukan itu bisa juga diikuti dengan inseminasi dengan mengambil bahan sperma segar. Dibandingkan kawin secara alami, itu bisa untuk betina berahi sampai 500 ekor. Ini sesuatu yang efisien, walaupun kelihatannya masih belum dikembangkan secara formal, tandasnya.
Terakhir, Prof Tatang dan melakukan tim dengar pendapat dengan komisi B DPRD Surabaya dan Dinas Peternakan Provinsi Jatim. Ia mengusulkan gagasan kedaulatan bibit. Sebab selama ini menurutnya, Indonesia belum memiliki kedaulatan teknologi.
淜ita hanya sebagai perakit industri. Kita hanya sebagai peracik. Tidak ada pabrik yang betul-betul milik Indonesia yang menghasilkan produk Indonesia. Mungkin dulu pernah di zaman Pak Habibie, tapi tidak sempurna. Itu merupakan sesuatu bisa dilanjutkan, tegasnya.
淜ita ingin ilmuwan dan mahasiswa kita di masa mendatang, bisa menciptakan kedaulatan dengan produk teknologinya, tambah Prof Tatang.
Prof Tatang meyakini, teknik akupunktur bisa menghasilkan bibit yang bagus dan unggul. Sekaligus, bisa dikembangkan pada ternak lokal di Indonesia. Yang digunakan Prof Tatang terutama adalah ternak sapi Madura. Ia sudah melakukan prototipe. Hasilnya, berat badan sapi cukup bagus.
淭inggal kita butuh provider DNA supaya nanti menjadi suatu produk kedaulatan bibit ternak Indonesia dengan fenotip dan genotip unggulan. Suatu saat kita nanti bisa menjadi eksportir ternak unggulan, ungkap Prof Tatang mantap. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Defrina Sukma S





