51动漫

51动漫 Official Website

Latar Belakang Pendidikan Dewan Komisaris dan Kualitas Laporan Keberlanjutan

Di era di mana kepedulian terhadap isu sosial dan lingkungan semakin meningkat, pelaporan keuangan tradisional yang berfokus pada aktivitas ekonomi mulai kehilangan relevansinya. Ini mendorong momentum untuk pelaporan korporat yang lebih komprehensif, mencakup triple bottom line: ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pelaporan keberlanjutan korporat atau pelaporan triple bottom line ini menjadi penting untuk menunjukkan kinerja perusahaan secara menyeluruh (Elkington, 1994). Dalam ekonomi global yang berubah cepat, pelaporan CS menjadi alat strategis bagi perusahaan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup mereka, serta membangun hubungan positif dengan pemangku kepentingan (Lo dan Sheu, 2007; Louren莽o et al., 2012).

Global Reporting Initiative (GRI) diakui sebagai kerangka kerja standar untuk pelaporan keberlanjutan, dikenal dengan pendekatannya yang komprehensif dan konsisten (Brown et al., 2009; Marimon et al., 2012; Laskar dan Maji, 2016, 2017). Di Indonesia, tren pelaporan keberlanjutan dimulai pada tahun 2006 dengan PT Kaltim Prima Coal yang menggunakan pedoman GRI G2. Sejak 1 Juli 2018, perusahaan Indonesia menggunakan Standar GRI, menggantikan GRI G4, yang menawarkan fleksibilitas dalam memperbarui standar di bidang masing-masing. Jumlah perusahaan yang memproduksi laporan keberlanjutan terus meningkat. Sistem tata kelola perusahaan di Indonesia berbeda dengan di AS, dengan sistem dua tingkat yang terdiri dari dewan pengawas (dewan komisaris atau BOC) dan dewan eksekutif (dewan direksi). Dewan komisaris memainkan peran penting dalam pengawasan dan manajemen CSR, memastikan kepatuhan perusahaan, terutama dalam penyusunan laporan keberlanjutan berdasarkan standar GRI (Rao & Tilt, 2016; Ibrahim & Hanefah, 2016; Choi, 2020).

Namun, keberadaan laporan keberlanjutan saja tidak secara otomatis meningkatkan kualitas informasi yang dilaporkan (Junior et al., 2014). Jaminan laporan keberlanjutan meningkatkan kredibilitas dan keandalannya, berkontribusi pada reputasi korporat (Simnett et al., 2009). Efektivitas dewan komisaris berdampak signifikan pada kualitas laporan keberlanjutan (Astrid dan Sylvia, 2018). Latar belakang pendidikan dan keahlian mereka penting untuk menyediakan informasi yang rinci dan transparan tentang tanggung jawab korporat (Swardani et al., 2021). Studi menunjukkan bahwa dampak pencapaian pendidikan terhadap pengungkapan CSR bergantung pada peringkat universitas dan kemandirian ketua dewan. Namun, latar belakang pendidikan tertentu seperti MBA, akuntansi, atau ekonomi tidak berhubungan signifikan dengan pengungkapan CSR (Prabowo et al., 2017). Dari perspektif Berbasis Sumber Daya (RBP), perusahaan dapat memperoleh keunggulan kompetitif dengan memanfaatkan sumber daya yang langka, berharga, dan tidak dapat digantikan secara efektif (Bowman dan Ambrosini, 2003; Kraaijenbrink et al., 2010; Louren莽o et al., 2012). Laporan keberlanjutan berkualitas tinggi menunjukkan komitmen perusahaan dalam mengelola dampak ekonomi, sosial, dan lingkungannya, meningkatkan transparansi yang penting untuk menjaga hubungan positif dengan pemangku kepentingan (Roberts, 1992; Carrots and Sticks, 2013; Laskar dan Maji, 2016). Laporan ini bukan hanya cerminan praktik saat ini, tetapi juga alat strategis untuk pertumbuhan masa depan, menekankan pentingnya integrasi pertimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan ke dalam inti operasi bisnis.

Metode dan Hasil

Sumber data penelitian ini terdiri dari laporan tahunan, laporan keberlanjutan, situs pelaporan global (GRI), dan Quacquarelli Symonds (QS) World University Ranking. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dengan tujuan untuk memperoleh sebanyak mungkin perusahaan yang telah memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai sampel penelitian selama 5 (lima) tahun, 2015-2019, yang berjumlah 258 perusahaan. Penelitian ini menggunakan model regresi berganda dengan klaster perusahaan menggunakan perangkat lunak STATA 14 untuk menentukan arah dan besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini menemukan bahwa latar belakang pendidikan BOC dengan gelar sarjana dari universitas terkemuka menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keberlanjutan. Sebaliknya, latar belakang pendidikan yang didefinisikan oleh tingkat pendidikan menunjukkan efek yang tidak signifikan terhadap laporan keberlanjutan. Peran BOC di Indonesia adalah untuk mengawasi kualitas laporan perusahaan, oleh karena itu hasil tersebut menunjukkan bahwa universitas-universitas top memiliki peran dalam membentuk karakter dan kepedulian terhadap masalah lingkungan.

Penulis: Sebastian Tanputra, Iman Harymawan, and Mohammad Nasih

Jurnal: Board of Commissioners Educational Background And Sustainability Report Qualit

AKSES CEPAT