Sekitar 13% ibu di dunia mengalami gangguan kesehatan mental setelah melahirkan, dengan depresi pascapersalinan sebagai masalah yang paling umum (Wang dkk., 2021; Chauhan & Potdar, 2022). Angka ini lebih tinggi di negara berkembang, mencapai sekitar 20% (Liu, Wang, & Wang, 2022), dan di Indonesia prevalensi depresi pascapersalinan diperkirakan sebesar 26,15% (Nurbaeti, Deoisres, & Hengudomsub, 2018). Gangguan kesehatan mental pascapersalinan berdampak negatif pada ibu, bayi, dan keluarga, sehingga layanan kesehatan mental pada periode ini menjadi kebutuhan penting (Bradley & Slade, 2011; Rowlands, 2014; Shimoya dkk., 2022).
Bidan memiliki peran utama dalam perawatan ibu pascapersalinan, termasuk dukungan kesehatan mental (ICM, 2018; Kemenkes RI, 2020). Meskipun kesehatan mental telah menjadi bagian dari perencanaan strategis nasional, hingga kini belum terdapat regulasi dan protokol khusus terkait layanan kesehatan mental ibu pascapersalinan di Indonesia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketiadaan pedoman standar menyebabkan variasi praktik bidan dalam memberikan perawatan kesehatan mental pascapersalinan (Fitriana, Ningtyas, & Dewi, 2022). Penelitian ini bertujuan untuk menggali perspektif dan pengalaman ibu pascapersalinan terhadap layanan kesehatan mental yang diberikan oleh bidan sebagai dasar penguatan praktik kebidanan berbasis konteks budaya di Indonesia. Studi deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologis untuk mengeksplorasi pengalaman wanita terkait dukungan psikologis dan emosional yang diberikan oleh bidan selama periode pascapersalinan.. Populasi pada penelitian ini adalah ibu pasca persalinan yang melahirkan di tempat praktik bidan (rumah sakit, puskesmas, atau praktik mandiri) dengan Jumlah sampel total adalah 15 peserta dilakukan wawancara mendalam semi-struktural selama kurang lebih 60 menit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu pascapersalinan belum memahami peran bidan dalam memberikan dukungan psikologis. Bidan umumnya masih dipersepsikan hanya berfokus pada perawatan fisik dan aspek obstetri, sehingga perannya dalam kesehatan mental ibu kurang dikenal (WHO, 2021). Keterbatasan pemahaman ini dipengaruhi oleh minimnya informasi mengenai layanan kesehatan mental yang dapat diberikan bidan (Hogg, 2013), adanya stigma terhadap peran bidan, serta kurangnya komunikasi dan edukasi proaktif terkait kesehatan mental pascapersalinan (Olds, Sadler, & Kitzman, 2007). Kondisi ini juga diperkuat oleh pandangan di negara berkembang yang cenderung menempatkan kesehatan mental ibu di luar ranah kompetensi bidan (Say et al., 2014).
Di sisi lain, bidan dipersepsikan memiliki peran yang lebih menyeluruh dibandingkan tenaga kesehatan lainnya karena pendekatan pelayanan yang lebih personal dan berpusat pada ibu. Peran ini mencakup dukungan emosional, deteksi dini gangguan kesehatan mental pascapersalinan, serta pemberian edukasi dan rujukan yang sesuai (Renfrew et al., 2014; Filby, McConville, & Portela, 2016; Schmied et al., 2018). Melalui model continuity of care, hubungan berkelanjutan antara bidan dan ibu berkontribusi dalam meningkatkan rasa aman, kenyamanan, serta pencegahan dan penanganan dini masalah kesehatan mental pada masa pascapersalinan (Hunter & Segrott, 2014; Sandall et al., 2016).
Meskipun pedoman pelayanan pascapersalinan komprehensif telah diterbitkan pada tahun 2019, ibu masih merasakan variasi dalam perawatan psikologis yang diberikan bidan, yang kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan pemahaman dan akses bidan terhadap pedoman tersebut (Ministry of Health, 2019). Beberapa bidan melakukan penilaian kondisi psikologis atau debriefing pascapersalinan, meskipun efektivitasnya belum konsisten (Bastos et al., 2015), serta melakukan rujukan bila ditemukan gangguan mental berat sesuai kompetensi profesional (ICM, 2019). Namun, kepuasan ibu belum optimal, terutama akibat keterbatasan keterampilan komunikasi bidan dalam menangani masalah kesehatan mental (Scardovi et al., 2003; Stensrud et al., 2012), meskipun komunikasi merupakan kompetensi inti bidan (ICM, 2019). Ibu berharap adanya dukungan psikologis yang lebih baik melalui asuhan kebidanan holistik dan penerapan model continuity of care berbasis bidan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu dan bayi (Sandall et al., 2013; Mortensen et al., 2019).
Penulis : Woro Setia Ningtyas, S.Keb.,Bd.,M.Kes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :





