51动漫

51动漫 Official Website

Lebih Dekat dengan Mahasiswa UNAIR Penyandang Disabilitas

Sharing Pengalaman dengan Alfian Andhika Yudhistira. (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS Sebagaian besar orang awam berfikir bahwa orang dengan disabilitas tidak bisa melakukan apa-apa, merepotkan, tidak bisa bersekolah dan sebagainya.  Padahal mereka bisa menjalani hidup dengan mandiri seperti yang lain apabila diberi kesempatan. Begitulah pesan yang disampaikan oleh saudara Alfian Andhika Yudhistira dalam webinar yang berjudul 淟ebih Dekat dengan Disabilitas: Sosok Inspiratif di Tengah Pandemi Covid-19.

Webinar yang digagas oleh Kementerian Sosial Masyarakat BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 51动漫 tersebut diadakan melalui aplikasi Zoom Meeting pada Sabtu siang (17/04/2021). Acara ini bertujuan sebagai wadah untuk mahasiswa UNAIR penyandang disabilitas dan akademisi untuk berbagi secara langsung tentang pengalaman mahasiswa tersebut selama menjalani bangku perkuliahan di UNAIR. Webinar ini mendatangkan dua narasumber yakni Dr. M. Hadi Subhan, S.H., M.H., CN. selaku Direktur Kemahasiswaan 51动漫 dan Alfian Andhika Yudhistira selaku Ketua Biro Pendidikan dan Teknologi Informasi Pertuni (Persatuan Tunanetra Indoseia) di Jawa Timur.

Dalam webinar tersebut, Alfian berperan sebagai pemateri dalam sesi kedua untuk berbagi pengalamannya kepada peserta tentang bagaimana ia menjalani aktivitas sebagai mahasiswa penyandang disabilitas. Sebelum memasuki materi, alumni S1 Antropologi 51动漫 tersebut membagikan sebuah video yang menampilkan bagaimana ia menjalankan kesehariannya sebagai penyandang tunanetra.   

淪ebenarnya sebagai penyandang tunanetra tidak ada masalah dalam keseharian kami, sama saja, kami juga sekolah, mau main ya main, ujar laki-laki yang akrab disapa Alfian tersebut. 

Alfian menekankan bahwa tidak semua penyandang disabilitas harus hidup menderita dengan kekurangan yang ada. Mereka juga dapat berkembang apabila mereka mau untuk belajar mandiri serta diberi kesempatan untuk itu. Mereka juga punya kesempatan yang sama dalam pendidikan baik formal maupun non-formal. 

Sayangnya, secara umum masih sedikit penyandang disabilitas yang mengenyam pendidikan. Menurut penjelasan Alfian, hal tersebut dikarenakan beberapa faktor seperti ketidaktahuan keluarga, SLB (Sekolah Luar Biasa) yang terbatas, serta sekolah inklusi yang belum merata.

淛adi tidak semua sekolah mau atau berani menerima siswa maupun mahasiswa dengan disabilitas, ungkap alumni Forum Indonesia Muda tersebut.

Berdasarkan keterangan Dr. M. Hadi Subhan, S.H., M.H., CN. sendiri, UNAIR merupakan salah satu Perguruan Tinggi yang menjadi kampus rujukan karena memfasilitasi mahasiswa penyandang disabilitas. Namun, fasilitas yang ada belum tentu dapat diakses apabila tidak didukung dengan kepedulian lingkungan sekitar.

淢eskipun sudah terdapat fasilitas bagi penyandang disabilitas jika tidak didukung dengan awareness lingkungan sekitarnya maka aksesibilitas fasilitas tersebut tidak dapat maksimal tutur Alfian.

Jadi, imbuh Alfian, sebenarnya yang paling penting bagi disabilitas bukan hanya tentang mempelajari ilmu tapi juga tentang cara bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Lingkungan fisik itu perlu tapi awareness itu lebih perlu lagi. Diharapkan setelah ini peserta webinar menyadari pentingnya untuk meningkatkan awareness di sekitar kita dan membentuk lingkungan yang inklusif.

Penulis : Tyas Ratna Manggali

Editor  : Nuri Hermawan

AKSES CEPAT