UNAIR NEWS Ghardana Dekan Cup 2018 merupakan wadah untuk menyelenggarakan kegiatan rutin dari BEM FIB setiap tahunnya. Kegiatan itu diadakan sebagai wadah pengaktualisasian minat dan bakat mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 51动漫.
Tahun ini Ghardana Dekan Cup mengusung tema 漀irwana atau Unite The Difference With Nirwana, yang memadukan konsep permainan tradisional dengan modern. Tujuannya adalah untuk menerima budaya modern dan menjaga kelestarian budaya tradisional.
Dalam merealisasikan hal tersebut, panitia mengadakan perlombaan gobak sodor di FIB pada Jum檃t (21/9). Menurut Ketua Panitia Izzudin Ma檙uf, dipilihnya permainan tersebut karena gobak sodor adalah permainan tradisonal yang cukup populer di masyarakat.
滺ampir di semua daerah di Indonesia memiliki permainan tradisional sejenis gobak sodor, terangnya.
漇elain itu, filosofi dari permainan gobak sodor itu menarik. Sebab, permainannya untuk menerobos dan mempertahankan benteng dari (serangan, Red) lawan, tambahnya.
Cara Bermain
Permainan tradisional itu terdiri atas dua nomor, yakni putra dan putri. Dilaksanakan dua tim yang beranggota lima orang. Tim itu berasal dari setiap jurusan, yaitu Ilmu Sejarah, Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, serta Studi Kejepangan.
Dalam permainan tersebut, terdapat dua tim penjaga dan tim penerobos. Tim penjaga bertugas menjaga pos serta menghadang tim penerobos ke pos selanjutnya. Yakni, dengan memperhatikan batasan gerak pada garis horizontal (tali) yang dibuat panitia.
Sementara itu, bagi tim penerobos, tugas mereka adalah untuk meloloskan diri dari tim penjaga dan mengambil bendera jurusan yang masing-masing berada di sisi kanan dan sisi kiri tim penjaga. Tim penerobos akan dinyatakan gugur jika tim penjaga menarik udeng yang terikat pada lengan mereka
漃erhitungan pemenang dihitung dari banyaknya jumlah bendera yang berhasil tim penerobos kumpulkan hingga di pos terakhir, terang mahasiswa studi kejepangan itu.
Adapun hasil dalam perlombaan tradisional tersebut, untuk putra dimenangkan tim dari bahasa dan sastra Indonesia sebagai juara I, ilmu sejarah juara II, serta studi kejepangan juara III. Sementara itu, untuk putri, juara I diperoleh studi kejepangan, juara II diperoleh ilmu sejarah, serta juara III diperoleh bahasa dan sastra Indonesia.
Harapan setelah perlombaan itu, menurut Izzudin, adalah adanya keinginan untuk menyatukan mahasiswa dari keempat jurusan dalam rumah Fakultas Ilmu Budaya. 漇ebab, di kompetisi ini euforianya tidak hanya bangga jurusan, tapi juga bangga FIB, dengan paduan seni (permainan) tradisional, ujarnya. (*)
Penulis: Fariz Ilham Rosyidi
Editor: Feri Fenoria Rifa橧





