Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar Nasional tahun 2018, dilaporkan bajwa angka prevalensi stroke di Indonesia adalah sekitar 10,9%. Dari angka tersebit salah satu penyebab tertinggi adalah perdarahan otak intraserebri. Perdarahan otak intraserebri terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di dalam jaringan otak, diantaranya akibat naiknya tekanan darah yang berlebihan ataupun karena trauma. Di Indonesia stroke akibat perdarahan intraserebri mencapai sekitar 29,6%. Hal ini mengakibatkan tingginya angka mortalitas yang dapat membebani sosio-ekonomi negara termasuk di Indonesia. Selain itu, sekuele yang timbul akibat kelainan ini dapat menyebabkan naiknya angka morbiditas.
Salah satu sekuele yang sering dilaporkan adalah hemiparesis, di mana terjadi kelumpuhan motorik tubuh pada satu sisi. Dari penelitian terdahulu dilaporkan bahwa tingkat kejadian hemiparesis berkaitan erat dengan hipertensi akut, maupun kronik, meskipun kaitan pada pasien stroke akibat perdarahan intraserebri dengan komorbiditas hipertensi belum banyak diteliti dan hal inilah yang menjadi tujuan studi tim peneliti dari Departemen Anatomi, Histologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran, 51动漫, Indonesia yang terdiri dari dosen dan mahasiswa.
Pada hipertensi, kenaikan tekanan intrakranial dan/ atau pembesaran bekuan darah hematoma dapat menjadi penyebab terjadinya penekanan mekanik dan/ atau disertai patologi di tingkat seluler dan molekuler melalui mekanisme hipoksia iskemia dan terjadinya reaksi stres oksidatif. Hal-hal tersebut dapat menimbulkan gangguan neurotransmisi motorik yang menyebabkan hemiparesis.
Pada penelitian kami, seluruh data pasien stroke usia dewasa, yang dirawat di instalasi gawat darurat RSUD. Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia tahun 2020 akibat perdarahan intraserebri primer dengan hemiparesis dianalisis hubungannya dengan level hipertensi yang diderita guna membantu merencanakan langkah prediktif dan preventif untuk membantu menurunkan tingkat morbiditas terkait sekuele pada kelainan ini.
Terdapat 87 pasien yang memenuhi kriteria penelitian kami, dan dikategorikan sesuai tekanan darah sistolik dan diastolik-nya. Pasien dengan normotensi dan pre-hipertensi dikategorikan dalam kelompok kontrol. Sedangkan hemiparesis dikonfirmasi oleh dokter jaga instalasi gawat darurat sesuai pemeriksaan yang dicatat dalam rekam medis pasien, tanpa membedakan jenis dan derajat kelumpuhan. Dari penelitian tim kami menemukan adanya hubungan yang signifikan antara derajat tekanan darah dengan terjadinya hemiparesis pada kasus perdarahan intraserebri. Lebih lanjut ditemukan pula bahwa risiko terjadinya hemiparesis pada kasus tersebut sekitar 4,7 kali lebih tinggi pada penderita hipertensi derajat 1-5 dibandingkan dengan kelompok normotensi dan pre-hipertensi.
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pengendalian tekanan darah sangat berperan dalam menurunkan angka kejadian hemiparesis, dan perdarahan intraserebri primer pada penderita stroke dewasa.
Penulis: Prof. Viskasari P. Kalanjati, dr., M.Kes., PA(K)., Ph.D.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Okbah NU, Kalanjati VP, Al Fauzi A, Hasanutuludhhiyah N. 2023. Biomolecular and Health Science Journal 6(1):p 31-35, Jan揓un 2023. | DOI: 10.4103/bhsj.bhsj_48_22





