UNAIR NEWS – Perlawanan terhadap batasan sosial menjadi isu krusial yang diangkat oleh seniman melalui karya sastra. Dalam upaya mendiskusikan fenomena tersebut, Jika Puan Tak Ada (JIPTA) sebagai bagian dari Kementerian Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (KGIS) (FIB) 51动漫 (UNAIR) menggelar talkshow bertajuk Djenar Maesa Ayu: Perlawanan Terhadap Batas Sosial. Kegiatan tersebut bertempat di Amphitheater Kampus Dharmawangsa-B pada selasa (4/11/2025).
JIPTA kali ini secara khusus mengulas gaya penulisan Djenar Maesa Ayu, yang terkenal sebagai aktris dan penulis, serta fokus karyanya pada isu kesetaraan gender. Acara ini menghadirkan dua narasumber yakni Dosen FIB Alexei Wahyudiputra SHum MHum dan anggota Humanies Project Aqila Putri Damayanti.
Fokus Penulisan Mikro Djenar dan Batasan Vulgaritas
Alex menyampaikan, ia tertarik pada karya Djenar karena gaya bahasanya yang kritis terhadap isu-isu sosial. Ia menilai Djenar sering menggunakan karya sebagai media ekspresi perlawanan terhadap batasan sosial. Saat mengulas novel Mereka Bilang Saya Monyet, Alex menjelaskan bahwa predikat vulgar yang sering melekat pada karya tersebut bersifat subjektif, tergantung pada bagaimana media menyampaikan.
Menurut Alex, karya Djenar memiliki perbedaan yang signifikan dengan karya sezaman, yaitu fokusnya pada aspek politik yang lebih mikro dalam lingkup kelompok. 淜arya Djenar mengangkat isu yang belum banyak dibahas secara berani. Khususnya yang berkaitan dengan perempuan, jelasnya. Ia menyimpulkan bahwa Djenar telah memberikan kontribusi penting dalam narasi isu mikro ini.
Pentingnya Equity dan Ruang Dengar Bagi Perempuan
Narasumber kedua, Aqila Putri Damayanti, menyoroti bahwa isu kesetaraan gender masih menjadi pembahasan berkelanjutan karena belum diulas secara mendalam. 淜ita para perempuan hanya ingin didengar, ujarnya.
Aqila menyoroti masalah partisipasi pria dalam isu ini, khususnya untuk mendengar dan tidak ada dominasi ego. Selain itu, ia juga meluruskan konsep tentang kesetaraan gender yang tidak hanya menuntut equality (kesamaan), tetapi yang lebih penting adalah equity (keadilan). Ia menilai karya-karya Djenar Maesa Ayu secara efektif telah membantu publik memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai isu kesetaraan gender.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yulia Rohmawati





