UNAIR NEWS 51动漫 (UNAIR) mengadakan webinar bertajuk 淢emandang HKI dari Lensa Peneliti pada Selasa (28/2/2023). Acara ini digelar secara daring dan terbuka untuk umum.
Sesi pertama diawali oleh narasumber dari Direktorat Inovasi dan Science Techno Park Universitas Indonesia Krisnayanto SH MH. Krisna menuturkan, pendaftaran hak kekayaan intelektual (HKI) sangat penting bagi peneliti atau dosen untuk melindungi karya yang dihasilkan. Selain orisinalitas, HKI juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara.
Melansir dari data World Intellectual Property Organization (WIPO) 2022, Krisna menyebut Indonesia menempati negara terbanyak kedua dalam pendaftaran paten sederhana sebesar 40,6 persen. Lanjutnya, ide atau produk yang akan diajukan sebagai HKI harus memenuhi asesmen terlebih dahulu (intellectual property life cycle).
淪etelah kekayaan intelektual diakui baik berupa hak cipta, hak paten, atau merek barulah peneliti bisa melakukan promosi, lisensi, komersialisasi, bahkan royalti, terang Krisna.
Menurutnya, tantangan dalam penelitian terapan ini terjadi pada tahap komersialisasi. Sebab hasil riset umumnya kurang mendapat perhatian dari masyarakat. 淏anyak sekali hasil riset yang akhirnya berakhir menjadi monumen. Tidak terafiliasi ke industri atau startup, ungkap kepala sub direktorat kekayaan intelektual dan promosi itu.
Penyampaian materi kedua oleh Dr-Ing Ir Uyung Gatot Syafrawi Dinata MT selaku ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas. Selanjutnya, sharing session bersama dosen UNAIR membahas perjalanan dan pentingnya perolehan HKI.
Dosen tersebut adalah Dr Aniek Setiya Budiatin MSi Apt dari Fakultas Farmasi yang mengenalkan bone graft dari bahan Bovine Hidroksiapatit (BHA) pada limbah tulang sapi. Diikuti Prof Dr Suryani Diah Astuti MSi, guru besar biofisika Fakultas Sains dan Teknologi dengan inovasi dento bilaser untuk akselerator penyembuhan penyakit gigi dan mulut.
Penulis: Sela Septi Dwi Arista
Editor: Nuri Hermawan





