Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Namun, di balik tingginya intensitas penggunaan platform digital tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah paparan media sosial dapat mendorong perilaku hidup sehat, khususnya dalam mencegah diabetes melitus (DM)?. Penelitian terbaru menjawab pertanyaan tersebut. Studi yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Keperawatan, 51¶¯Âþ ini menemukan bahwa literasi media sosial dan niat (intention) memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pencegahan diabetes pada remaja.
Penelitian melibatkan 231 siswa berusia 16 tahun di Jawa Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa 67,1% responden memiliki lebih dari tiga akun media sosial dan 39% mengakses media sosial selama 3“4 jam per hari. Seluruh responden menggunakan WhatsApp dan Instagram, sementara sebagian besar juga aktif di TikTok dan YouTube. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial merupakan ruang strategis untuk promosi kesehatan pada kelompok usia remaja. Dari sisi literasi media sosial, sebagian besar siswa berada pada kategori sedang (55%), dan 40,7% berada pada kategori rendah. Artinya, meskipun remaja sangat aktif mengakses informasi digital, kemampuan mereka dalam memahami, mengevaluasi, dan menerapkan informasi kesehatan masih belum optimal.
Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara literasi media sosial dan perilaku pencegahan DM (p<0,001; r=0,325). Selain itu, niat untuk melakukan pencegahan juga berhubungan signifikan dengan perilaku nyata (p<0,001; r=0,305). Semakin tinggi kemampuan remaja dalam memilah dan memanfaatkan informasi kesehatan di media sosial, semakin baik pula perilaku pencegahan yang mereka lakukan, seperti menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, serta aktif mencari informasi tentang diabetes. Menariknya, penelitian ini juga menemukan adanya kesenjangan antara kemampuan mengakses informasi dan kemampuan menerapkannya. Sebagian besar remaja mampu mengakses dan memahami konten kesehatan, tetapi masih lemah dalam mengevaluasi kredibilitas informasi serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi digital tidak cukup hanya pada aspek akses, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan dan kesehatan. Integrasi literasi kesehatan digital dalam kurikulum sekolah menjadi langkah strategis untuk membekali remaja dengan kemampuan menilai informasi kesehatan secara kritis. Selain itu, pemanfaatan teknologi inovatif seperti kampanye kesehatan berbasis media sosial, konten edukasi interaktif, hingga chatbot kesehatan berbasis kecerdasan buatan dapat menjadi pendekatan efektif untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku pencegahan sejak dini. Penelitian ini menegaskan bahwa media sosial bukan sekadar sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi infrastruktur inovatif dalam promosi kesehatan. Dengan literasi yang baik dan niat yang kuat, remaja memiliki potensi besar untuk membangun perilaku hidup sehat dan mencegah risiko diabetes di masa depan.
Penulis: Ika Nur Pratiwi, Dita Dwi Oktav Prabawati, Erna Dwi Wahyuni, Nursalam Nursalam, IkaYuni Widyawati, Nor Aziyan Yahaya
Nama lengkap: Dr. Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Kep.
NIP: 198711022015042003
No. HP: 08179610106
Judul Artikel: Entrepreneurship in Social Media Literacy and Intentionsfor Diabetes Prevention among Adolescent Students
Untuk informasi lebih lanjut bisa melalui link berikut:
Pratiwi, I. N., Prabawati, D. D. O., Wahyuni, E. D., Nursalam, N., Widyawati, I. Y., & Yahaya, N. A. (2026). Entrepreneurship in Social Media Literacy and Intentions for Diabetes Prevention among Adolescent Students. APTISI Transactions on Technopreneurship, 8(1), 85-98.





