51

51 Official Website

LPI UNAIR Prakarsai Pelatihan Publikasi Ilmiah Populer di Media Massa

REDAKTUR Opini Jawa Pos, Agus Muttaqin menyampaikan presentasinya dalam workshop di Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI) UNAIR, Jumat (7/4) lalu. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS Dalam rangka untuk meningkatkan publikasi ilmiah populer di media massa, Lembaga Penelitian dan Inovasi (LPI) 51 menyelenggarakan workshop, Jumat (7/4) kemarin. Puluhan dosen dan peneliti di 51 ambil bagian dalam acara yang bertema Workshop Diseminasi Hasil Penelitian dan Pemikiran Kritis Melalui Publikasi Ilmiah Populer di Media Massa ini.

Dalam acara di ruang sidang utama Lantai 2 Gedung Kahuripan, Kampus C UNAIR, itu dibuka oleh Ketua LPI UNAIR Prof. Drs. Hery Purnobasuki, M.Sc., Ph.D. Menghadirkan tiga nara sumber yaitu Agus Muttaqin, Redaktur Opini Jawa Pos, sosiolog dan kolumnis FISIP UNAIR Dr. Drs. Bagong Suyanto, M.Si., dan Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR Badri Munir Sukoco, SE., MBA., Ph.D.

Dilaksanakannya kegiatan ini, seperti dijelaskan Prof. Hery Purnobasuki, bahwa hasil penelitian dari para dosen dan peneliti 51 ini relatif banyak, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Memang lebih banyak dilaporkan sebagai jurnal ilmiah, padahal selain itu juga memungkinkan ditulis menjadi artikel ilmiah populer yang bisa dikonsumsi masyarakat lebih luas.

Mudah-mudahan setelah mengetahui metodologinya atau cara dan trik-trik yang harus ditulis, setelah acara ini akan banyak dosen dan peneliti UNAIR yang menulis artikel ilmiah populer di media massa, kata Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR ini berharap.

Pada sesi pertama, Agus Muttaqin, Redaktur Opini Jawa Pos membeberkan rahasia dapurnya. Misalnya, bagaimana naskah dari penulis memenuhi persyaratan yang ditentukan redaksi surat kabar, bagaimana mengungkapkan ide/gagasan sebagai barang termahal dari penulis, pengetahuan yang dipaparkan baik bahasa, diksi pemilihan kata-kata, argumen gagasan, dan teknik penulisannya.

Penulis opini di media harus memakai bahasa yang komunikatif, tidak bertele-tele, dan ringkas. Kecenderungan pembaca sekarang ini ingin membaca tulisan yang tidak panjang, enak dibaca, dan gampang dicerna, kata Agus Muttaqin.

PESERTA Workshop Diseminasi Hasil Penelitian dan Pemikiran Kritis Melalui Publikasi Ilmiah Populer di Media Massa, Jumat (7/4). (Foto: Bambang Bes)

Yang harus diperhatikan oleh penulis opini, tambahnya, antara lain tidak plagiat, kalau mengutip gagasan pihak lain harus disebutkan sumbernya. Tidak perlu menggunakan ghostwritter, dan jangan mengirim tulisan sama ke media lain. Pada naskah opini harus ada peg (cantolan), angle yang menarik, dan orisinal.

Sedangkan Bagong Suyanto juga menambahkan trik-trik bagaimana agar opini diterima sebagai naskah layak muat di media massa. Antara lain tidak perlu mengungkap banyak ide dalam suatu bahasan sebagai solusinya, faktor penyebab diangkatnya angle tulisan, dan tidak menuliskan sesuatu yang bersifat normatif banyak-banyak agar tidak menyita gagasan yang ditawarkan.

Yang termahal dalam persiapan membuat artikel adalah ide orisinal, sehingga jangan sampai terjebak oleh rutinitas kebiasaan dalam hidup bersosial yang dianggapnya sudah biasa. Gali ide-ide yang diluar kebiasaan itu, kata dosen FISIP UNAIR ini.

Sedangkan Badri Munir Sukoco memaparkan makalah dengan tema Academic Culture: Simple Thouhts. Pada bahasannya Ketua BPP UNAIR ini mendorong para dosen dan peneliti UNAIR untuk menulis, menulis dan menulis. Dengan mendaftar dalam Google Scholar Citations, maka artikel demi artikel jurnal yang dihasilkan dalam risetnya, termasuk bersama tim, akan mengangkat reputasi indeks seperti yang diharapkan oleh universitas. (*)

Penulis: Bambang Bes

AKSES CEPAT