UNAIR NEWS – Konselor sebaya sangat membutuhkan pertolongan pertama dalam bentuk pendampingan terkait masalah kesehatan mental. Magister psikologi profesi klinis membagikan cara jadi peer conselor. Mereka menggelar Training of Trainer (ToT) Program Peningkatan Kesehatan Mental Airlangga Health Promotion Center di GKB kampus MERR C pada Sabtu, (15/4/2023).
Listening and attending menjadi topik penutup ToT oleh Andrea M Agniwijaya S Psi. Ia menerangkan bagaimana cara menjadi seorang konselor sebaya yang baik serta bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan untuk seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental.
淛adi, sebenarnya teman-teman ngga harus paham kriteria diagnosis. Tapi menekankan pada memahami situasi satu dengan yang lain dan berempati dengan berbagi pengalaman emosional dan psikologis.
“Jadi, untuk peer support ini ada macam-macam ya teman teman. Jadi, kalau yang happening di realita peer support ada yang bukan dari psikologi, ada juga peer support yang khusus dari psikologi, katanya.
Hal Penting Seorang Perr Support
Adapun hal-hal penting ketika menjadi seorang peer support adalah saling mendukung dan memahami, hormat, tanggung jawab bersama, serta mendapatkan persetujuan yang bersangkutan untuk dibantu.
淭ak hanya dari pihak profesional, tapi juga dari pihak yang bersangkutan. Apakah mau untuk dibantu atau dia tidak mau. Karena, memang ada orang yang sebenarnya tidak mau untuk dibantu,” ujarnya.
“Kita ga bisa paksa kalau dia tidak mau karena akan resisten. Jadi, ketika kita selesai mendengarkan, kita boleh tanyakan kepada mereka, apakah memerlukan saran atau tidak, imbuhnya.
Andrea menjelaskan ada tiga indikator kualitas untuk seorang konselor. Yaitu, penghargaan tanpa syarat, pemahaman empatik, kehangatan serta ketulusan.

Ada beberapa cara untuk membangun ketulusan dan kehangatan. Di antaranya, nilai yang sama, tidak menyalahkan, non-defensif, kesetaraan, tidak berperilaku stereotip, tidak menekankan peran profesional, konsisten, serta besedia berbagi pengalaman.
Seorang konselor juga harus memiliki kemampuan attention atau kehadiran dan listening. 淜ehadiran dalam peer conseling itusepenuhnya pada momen ketika berinteraksi dengan lawan bicara, yang kedua mendengarkan melibatkan bagaimana konselor secara aktif memperhatikan jawaban klien tanpa menyela atau menghakimi, katanya.
Selain itu, terdapat tiga zona kehadiran. Yang pertama adalah attention out di mana konselor fokus dengan penampaian klien secara penuh. Zona kedua adalah attention in saat konselor fokusnya mulai terpecah. Dan, zona terakhir adalah attention focused on fantasy saat atensi konselor berputar-putar.
Pada awal dan akhir pemaparan materi, terdapat pengisian pre-posttest, sesi diskusi serta roleplay dengan pemeran seluruh peserta ToT. cara jadi peer conselor.
Penulis: Rima Mita Gutari
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:
Mahasiswa Doktoral Psikologi UNAIR Galakkan Pengmas Peduli Disabilitas
Psikologi Bina Desa 淧SIBI 2022 Upayakan Desa Pagerluyung Mojokerto sebagai Desa Inklusi





