UNAIR NEWS – Bullying atau perundungan merupakan bentuk perilaku menyimpang berupa menyakiti orang lain secara fisik, verbal, atau emosional dan polanya terjadi secara berulang. Perilaku ini sangat familiar terjadi di lingkungan sekolah, sejak SD bahkan SMA.
Berdasarkan data dari Goodstats yang bersumber dari KPAI dan JPPI, pada tahun 2023 tercatat 285 kasus perundungan dan naik menjadi 573 kasus pada tahun 2024. Dilihat dari jenjang pendidikan sebanyak 26 persen kasus perundungan terjadi di lingkungan SD dan MI.
Peningkatan jumlah kasus bullying ini mengkhawatirkan, dikutip dari Alodokter, dampak dari bullying kepada korban siswa bisa menyebabkan siswa mengalami anxiety, depresi, perubahan pola tidur dan makan,hilang minat dengan kegiatan yang digemari, sering sakit, tidak mau sekolah, kesulitan mengikuti pelajaran, produktivitas menurun, PTSD, bahkan percobaan hingga bunuh diri.
Oleh karenanya, penting untuk menanamkan pendidikan anti bullying sejak dini. Pada kesempatan Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 UNAIR, mahasiswa berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di Desa Kemangi untuk memberikan sosialisasi stop dan anti bullying. Kegiatan ini menargetkan dua sekolah yakin MI Al Hidayah Desa Kemangi yang dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2026 dan UPT SDN 244 Gresik yang dilaksanakan pada tanggal 19 Januari 2026.
Kegiatan ini selain mengedukasi siswa-siswa kelas 4 hingga kelas 6 tentang bentuk-bentuk bullying, ciri bullying, dampak bullying, konsekuensi hukum bagi pelaku bullying. Siswa-siswa diberikan motivasi untuk menghentikan perilaku bullying utamanya perilaku bullying kakak kelas kepada adik kelas.
Siswa-siswa diberikan kesempatan juga untuk menuliskan dalam kertas yang tidak ditulis namanya atau anonim tentang cerita-cerita yang tidak dapat diceritakan. Siswa-siswi kemudian diarahkan kepada mahasiswa untuk berbagi cerita baik cerita dari sisi korban maupun pelaku.
Tujuannya supaya memberikan ruang untuk bercerita dan melepas stress yang dipendam serta mendorong keberanian untuk melawan atau menghentikan perilaku bullying dengan komunikasi yang persuasif.
淧rogram ini punya jargon, Kita Berarti, singkatan dari berani, ramah, respek, dan toleransi. Harapannya program ini dapat memotivasi adik-adik, sekolah tidak boleh menjadi tempat sumber trauma tetapi tempat mengasah diri
Program ini merupakan bentuk kepeduliaan mahasiswa BBK 7 terhadap lingkungan tempat anak-anak tumbuh supaya dapat mewujudkan lingkungan belajar mengajar yang berkualitas bebas bullying sebagai perwujudan semangat SDG 4 Pendidikan Berkualitas dan Tridharma Perguruan Tinggi.
Penulis: Reinand Ari Pratama





