Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 51动漫 (UNAIR) Desa
Sidorukun melaksanakan kegiatan sosialisasi dan praktik pengelolaan limbah rumah tangga
melalui program JELITA (Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi) bersama ibu-ibu PKK Desa
Sidorukun pada Jumat, 23 Januari 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja
bidang lingkungan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan
limbah dapur secara berkelanjutan.
Saat kegiatan berlangsung, Vina selaku pemandu acara menanyakan bagaimana cara ibu-ibu
PKK mengolah minyak jelantah selama ini. Menanggapi pertanyaan tersebut, para peserta
menuturkan bahwa minyak jelantah hasil aktivitas memasak biasanya dikumpulkan dan dijual ke
bank sampah sebagai upaya mencegah pencemaran lingkungan.
淏iasanya kami jual ke bank sampah, Mbak, ujar salah satu ibu PKK.
Permasalahan minyak jelantah menjadi salah satu isu lingkungan yang cukup signifikan secara
nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Philippe Micone, CEO PT Noovoleum Indonesia
Investama, dalam pidato pembukaannya pada kegiatan kolaborasi bersama BRIN. Ia
menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi sebagai produsen used cooking oil (UCO)
terbesar kedua di Asia. Indonesia memproduksi sekitar 23 juta ton minyak jelantah per tahun.
Dari jumlah tersebut, sekitar 65 persen berasal dari rumah tangga, namun baru sekitar 12 persen
yang berhasil dikumpulkan secara optimal..
Menanggapi hal tersebut, mahasiswa BBK 7 UNAIR menawarkan alternatif pengolahan lain,
yakni mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang memiliki nilai manfaat serta
potensi ekonomi.
淢elalui program JELITA, kami ingin menunjukkan bahwa minyak jelantah yang selama ini
dianggap limbah ternyata masih dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai
guna, ujar Vina.
Selain berkontribusi dalam pengelolaan sampah dapur, lilin aromaterapi hasil olahan minyak
jelantah ini dapat dimanfaatkan sebagai hiasan rumah sekaligus membuka peluang usaha
sederhana bagi warga Desa Sidorukun. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya
pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa BBK 7 UNAIR memberikan penyuluhan singkat mengenai
dampak negatif pembuangan minyak jelantah secara sembarangan terhadap lingkungan,
kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi. Beberapa ibu-ibu PKK
turut dilibatkan secara langsung dalam setiap tahapan praktik.
Vina menjelaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan relatif mudah ditemukan. 淯ntuk
memurnikan minyak jelantah agar lebih jernih, kami menggunakan bleaching earth atau
alternatif yang lebih mudah didapat seperti arang aktif. Sementara stearic acid berfungsi sebagai
bahan pemadat yang mengubah minyak menjadi lilin, jelasnya. Bahan lain yang digunakan
meliputi krayon sebagai pewarna serta essential oil sebagai pewangi.
Setelah proses pencampuran bahan, ibu-ibu PKK secara langsung menambahkan essential oil
sesuai selera, mencampurkan warna, hingga memasang sumbu lilin. Kegiatan ini disambut
dengan antusias. Para peserta aktif bertanya mengenai teknik pembuatan lilin, ketersediaan
bahan di pasaran, hingga peluang pemasaran produk lilin aromaterapi ke depannya.
Melalui program JELITA, BBK 7 UNAIR berharap dapat berkontribusi dalam mendukung
Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini selaras dengan SDGs 6 tentang air bersih
dan sanitasi melalui pengelolaan minyak jelantah agar tidak mencemari lingkungan, SDGs 8
tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan keterampilan
masyarakat, serta SDGs 17 tentang kemitraan melalui kolaborasi aktif antara mahasiswa dan ibu-
ibu PKK untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.





