UNAIR NEWS Pendidikan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan tentang karakter, aksesibilitas, dan keberlanjutan. Semangat inilah yang dibawa oleh mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 51 Desa Karangmulyo melalui inisiatif PELITA (Pendampingan Edukasi, Literasi, dan Teknologi Anak). Bertempat di Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi.
Melalui tiga pilar kegiatan utama yaitu Jembatan Rasa, Student Catalyst, dan Perpustakaan Desa Berdaya Griya Maca Karangmulyo.
Jembatan Rasa: Membangun Ruang Aman Bebas Bullying melalui Sudut Cerita
Pada 19 Januari 2026, suasana SDN 1 Karangmulyo tampak berbeda. Sebanyak 83 siswa kelas 4, 5, dan 6 berkumpul untuk mengikuti Jembatan Rasa. Fokus kegiatannya adalah edukasi anti-bullying. Di tengah maraknya isu perundungan di lingkungan sekolah, edukasi mengenai dampak negatif bullying serta penanaman karakter untuk mempersiapkan diri ke jenjang yang lebih tinggi.
Terdapat pula sesi Sudut Cerita memberikan ruang aman bagi siswa untuk berbagi keluh kesah tentang dinamika pertemanan dan pembelajaran mereka di sekolah.
Mengetahui Fakultas dan Prodi Perguruan Tinggi melalui Student Catalyst
Dilaksanakan pada 12 Januari 2026 di Balai Desa Karangmulyo, mahasiswa BBK 7 UNAIR mencoba meruntuhkan sekat tersebut. Meski hanya dihadiri oleh 13 peserta, intensitas diskusi mengenai fakultas dan program studi berjalan lancar.
Setiap siswa-siswa SMA maupun SMK seyogyanya memiliki akses dan hak yang sama untuk mengetahui fakultas dan program studi yang sesuai dengan passion dan minat mereka, ujar Dani selaku pemateri.
Revitalisasi “Griya Maca Karangmulyo“: Ruang Literasi Desa Karangmulyo
Puncak dari upaya fisik PELITA adalah lahirnya kembali Griya Maca Karangmulyo. Selama dua hari (11-12 Januari 2026), tim BBK 7 melakukan reparasi dan manajemen ulang perpustakaan desa. Transformasi ini bertujuan mengubah sudut sunyi menjadi pusat literasi yang menarik dan fungsional di lingkup desa.
Revitalisasi ini merupakan bentuk nyata dukungan khususnya dalam meningkatkan kemampuan literasi warga. Selain itu, dengan memastikan perpustakaan dapat diakses oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang untuk memastikan anak laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk membaca.
Kegiatan Bersinergi Berdasarkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
SDGs nomor (4) Pendidikan Berkualitas; (5) Kesetaraan Gender; (10) Berkurangnya Kesenjangan; dan (17) Kemitraan untuk Mencapai Tujuan menjadi tonggak kolaborasi antara mahasiswa 51, SDN 1 Karangmulyo, dan pemerintah desa.
Penulis: Dani Adi Putra





