51动漫

51动漫 Official Website

Mahasiswa FIB Usung Pendidikan Inovatif di Pesisir Maluku Lewat KKN Kebangsaan

Dokumentasi pelaksanaan program kerja 淪ekolah Pesisir (Foto: Istimewa)
Dokumentasi pelaksanaan program kerja 淪ekolah Pesisir (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. KKN Kebangsaan menjadi salah satu yang menarik perhatian mahasiswa, termasuk Widia Fatmarani, mahasiswa 51动漫 (UNAIR).听

Widia, sapaan akrabnya, memutuskan untuk mengikuti KKN Kebangsaan di Negeri Tengah-Tengah, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Kepada UNAIR NEWS (30/8/2024), Widia menyebutkan bahwa ketertarikan terhadap budaya menjadi salah satu alasan kuat yang mendorongnya untuk bergabung dalam KKN Kebangsaan ini.

“KKN Kebangsaan memberikan kesempatan untuk belajar budaya lebih luas. Mengingat program ini melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang jurusan. Selain itu, perbedaan geografis dan budaya juga menjadi daya tarik tersendiri. Saya melihat ini sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi serta mengabdi di daerah yang berbeda, sekaligus memperluas jaringan dengan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia,” ungkap Widia

Selama menjalani KKN di Maluku, Widia dan timnya berhasil melaksanakan sepuluh program kerja yang mencakup berbagai aspek penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Di antaranya, program “Sekolah Pesisir” menjadi salah satu unggulan untuk memberikan edukasi yang menyenangkan kepada anak-anak di daerah pesisir.听

“Sekolah di sini hanya ada tiga, dua SD dan satu PAUD. Kurangnya fasilitas pendidikan membuat anak-anak di sini memiliki akses terbatas terhadap berbagai bentuk pembelajaran yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, kami merasa perlu memberikan edukasi tambahan untuk mereka,” jelas Widia.

Program “Sekolah Pesisir” terlaksana tiga kali dengan tema yang berbeda, yaitu literasi numerasi, wawasan kebangsaan, dan ekologi. Masing-masing tema menyesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan yang ada di masyarakat setempat. “Kami melihat bahwa tingkat literasi masih rendah, dan kesadaran untuk merawat pantai juga masih kurang, sehingga kami fokus pada edukasi yang relevan dengan kondisi tersebut,” terangnya.

Di samping itu, pelaksanaan KKN di Maluku tentunya tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Widia adalah perbedaan bahasa. “Bahasa yang digunakan di sini adalah bahasa Ambon, yang berbeda logat dan kosakatanya dengan bahasa Indonesia. Namun, saya terbantu dengan adanya anggota kelompok dari Universitas Pattimura dan beberapa dari mereka adalah orang Ambon,” ujar Widia.

Lebih lanjut, Widia dan timnya tidak hanya ingin program-program mereka berjalan selama KKN saja, tetapi juga berkelanjutan di masa depan. Sebelum kembali ke daerah asal, mereka telah menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah setempat agar program seperti “Sekolah Pesisir” dapat terus dilaksanakan. 

“Kami berusaha untuk berkolaborasi dengan pihak-pihak tertentu agar program kami tidak hanya berhenti setelah kami keluar dari lokasi KKN. Kami berharap, guru-guru di sini dapat melanjutkan dan mengaplikasikan program kami sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif,” pungkas Widia.

Penulis: Adinda Aulia Pratiwi
Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT