UNAIR NEWS Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok termasuk mahasiswa yang beruntung dari ratusan pelamar dari berbagai kalangan. Mahasiswa Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), 51动漫 (UNAIR), itu termasuk 14 orang yang berkesempatan mendapatkan beasiswa pelatihan jurnalistik lingkungan hidup di Indonesia.
Beasiswa oleh climate tracker Earth Journalism Network(EJN) tersebut berbentuk pelatihan jurnalistik lingkungan hidup. Yakni, diselenggarakan pada 28 Juni1 Juli di Hotel Grand Inna, Medan.
Beasiswa itu terbuka bagi semua kalangan dan tak terbatas pada usia. Yang mengejutkan, di antara 14 penerima beasiswa yang lain, Wahyu merupakan yang paling muda.
Sebelum memperoleh beasiswa tersebut, calon penerima beasiswa mengirimkan beberapa syarat. Yakni, mengirimkan artikel tentang lingkungan hidup yang telah diterbitkan media cetak maupun daring berbasis lingkungan hidup.
Di antara 700 naskah yang diterima panitia, terpilih 14 naskah yang penulisnya berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Naskah Wahyu salah satunya. Dia menulis artikel dengan judul 滵eforestasi, Investasi, dan Hilangnya Keanekaragaman Hayati.
淭opik itu berangkat dari rasa penasaran habis lihat film Asimetris. Akhirnya cari tahu betapa rumit dan busuknya politik babat hutan di Indonesia, ungkap Wahyu.
Para pemeroleh beasiswa itu adalah mereka yang berlatar belakang jurnalis atau ahli lingkungan. Mulai koresponden media ternama di Indonesia, pekerja di konservasi orang utan, hingga jurnalis lingkungan di daerah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai Medan, Lampung, Jakarta, Samarinda, Yogyakarta, Surabaya, Ternate, sampai Tapanuli.
沦补测补 nggak menyangka dari latar belakang fisika yang nggak ada hubungannya sama lingkungan bisa diterima. Dan, saya paling muda, tutur Wahyu, lantas tertawa.
Selama pelatihan, Wahyu mendapat banyak pengalaman dari narasumber lingkungan hidup. Dia belajar banyak tentang biodiversitas, terutama di Indonesia. Serta, teknik pemberitaan lingkungan hidup di media massa.
Ada lima narasumber yang dihadirkan. Yakni, Chris Wright (founder and managing director of climate tracker); Dr. Ir. Hotmail Sianturi (head of natural resourcers and conservation center Taman Nasional Gunung Leuser); Nabiha Shahab (writer for Cifor’s forest news); Aditya Heru Wardana (executive director of society Indonesian environmental journalist, editor at CNN); dan Fahmi Hakim (biodiversity Expert, lecturer at faculty foresty IPB). Dalam kelas tersebut, rata-rata sistem belajarnya by doing dan diskusi.
淒ari narasumber, saya belajar banyak tentang urgensi dan tantangan ketahanan biodiversity dan jurnalis lingkungan hidup itu sendiri. Serta, mengetahui aspek politik, ekonomi, maupun sosial tentang lingkungan. Misalnya, politik kelapa sawit sampai deforestasi dengan dalih industri, jelas Wahyu.
Banyak pengalaman yang didapatkan Wahyu seusai pelatihan tersebut. Mulai bertemu dan belajar dari para jurnalis professional serta para pemerhati lingkungan, hingga belajar dari koresponden Tempo yang baru melakukan liputan di Kanada tentang internationalconference ONE HEALTH.
淚ntinya, mata saya semakin terbuka akan biodiversity yang dipunya oleh Indonesia, melalui jurnalisme lingkungan, tegas Wahyu.
Beasiswa tetrsebut diberikan dengan tujuan memberikan pelatihan jurnalistik lingkungan bagi negara-negara berkembang. Terutama yang memiliki kekayaan biodiversity seperti Indonesia. Medan dipilih sebagai lokasi pelatihan mengingat pulau Sumatera adalah pemilik biodiversitas tertinggi di Indonesia, bahkan dunia.
沦补测补 percaya, bila diberi kesempatan dan dimentori jurnalis professional, jurnalis muda pasti akan melahirkan karya jurnalisme yang bagus, ucap Wahyu menirukan Chris Wright, salah seorang pembicara yang memotivasi dirinya. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Feri Fenoria Rifai





