UNAIR NEWS – Venny Pramudita Rahayu, mahasiswa Program Studi Fisika 51动漫 (UNAIR) angkatan 2022, terpilih sebagai delegasi Summer Exchange Program dalam Forum Internasional Regen Asia Summit (RAS) dan Asian Undergraduate Symposium (AUS) 2025. Program ini terselenggara oleh National University of Singapore (NUS) yang berlangsung secara luring (3-21/7/2025).
Forum bergengsi ini mempertemukan ratusan mahasiswa dari berbagai negara di Asia. Para peserta berasal dari universitas ternama seperti Nagoya University, Peking University, Seoul National University, hingga Tsinghua University. Mereka berkolaborasi untuk merumuskan solusi inovatif dalam isu regenerasi ekosistem, pembangunan berkelanjutan, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Regen Asia Summit (RAS)
Perjalanan Venny dimulai dari partisipasinya di RAS (4-5/7/2025). Dalam forum International tersebut, ia berkesempatan bertemu langsung dengan Presiden Singapura, Mr Tharman Shanmugaratnam dalam sesi fireside chat yang membahas konsep regenerasi dari sudut pandang kepemimpinan negara. Tema tersebut merupakan konsep lanjutan dari sustainability dengan fokus pada pemulihan aktif terhadap kerusakan ekosistem dan sosial. Dalam agenda yang sama, ia juga berkesempatan mengikuti berbagai sesi panel discussion dan journey class NUS yang bertujuan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif dan solutif terhadap isu global dan climate change di kawasan Asia.

Salah satu sesi utama adalah 淔rom Net Zero to Net Positive: The Case for Regenerative Climate-Action yang membahas strategi jangka panjang menuju perubahan sistematik untuk mencapai nol emisi karbon pada 2050 dan berfokus terhadap pengurangan emisi dengan mengeksplorasi pendekatan regeneratif dalam memulihkan ekosistem.
Selain itu, ia juga mengikuti sesi kelas lain sesuai minat yang di inginkan beberapa diantaranya yakni sesi kelas dengan topik 淪ystem Thinking: Holistic Strategies for Marine Conservation dan Protection bersama Ms. Sam Shu Qin membahas tentang regeneratif upaya pemulihan terumbu karang, keanekaragaman hayati dan polusi laut. Dalam sesi ini, ia tergabung dalam tim lintas negara dengan mahasiswa dari Myanmar, Vietnam, Thailand, Tiongkok dan Indonesia, berdiskusi untuk menyelesaikan studi kasus dan menyusun strategi konkret konservasi laut.
Sesi kelas lain yang diikuti adalah 淭he Role of Technology in Sustainability: Insights from Sustainable Living Lab bersama Prof. Veerappan Swaminathan yang membahas terkait bagaimana Sustainable Living Lab (SL2) menerapkan teknologi untuk mengatasi tantangan keberlanjutan di dunia nyata. Peserta ditantang untuk menyelesaikan climate risk assessment pada kasus Warehouse & Worker Analysis for Flood and Heatwave Risk di Chennai, India. Pada sesi ini, ia berkolaborasi dengan mahasiswa Myanmar, Thailand dan Cambodia untuk berdiskusi terhadap strategi konkret untuk merancang solusi teknologi inklusif dan mudah diakses masyarakat.
淪elama mengikuti RAS, saya mendapatkan banyak experience dari berbagai pembicara se-Asia menyuarakan semangat regenerasi. Sebagai mahasiswa Fisika, saya belajar bahwa ilmu tidak hanya tentang teori, tetapi juga tentang kontribusi nyata untuk menjawab tantangan global, ungkapnya.
Asia Undergraduate Symposium (AUS) 2025
Tepat setelah RAS, Venny turut serta dalam AUS 2025 yang diselenggarakan oleh National University of Singapore dengan berbagai peserta se-Asia. Nyatanya, jalan menuju AUS tidaklah mudah, ia harus melalui proses seleksi, mulai dari nominasi 51动漫 dan dilanjutkan dengan proses seleksi kompetitif oleh NUS hingga final stagenya menerima email yang menyatakan diterima sebagai delegasi studi di NUS.
AUS mengusung tema Interconnected Community dengan tiga sub-tema: Environment Sustainability, Diversity, Equity & Inclusion and Heritage & Culture. Para peserta mengeksplorasi isu-isu global melalui panel session, learning journey, project funding, dan lokakarya interaktif.
Dalam sesi project funding, ia tergabung dalam Tim EE yang menggagas inovasi GreenWrap, berfokus pada Environtment Sustainability. Bersama Supervisor Prof Jonathan Leong dan mahasiswa Universitas Hasanuddin, Nabhan Dzaky, sebagai leader team, serta delegasi dari Jepang, Myanmar dan Malaysia, mereka merancang produk edible coating buah dan sayur berbahan dasar cotton leaf, lidah buaya, daun sirih yang aman dikonsumsi.
Produk ini bersifat edible, biodegradable, beraroma alami, serta mengandung senyawa antimikroba untuk memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas hasil pertanian. GreenWrap juga berpotensi meningkatkan nilai jual dan pendapatan petani lokal serta mendukung bio-economy circular berbasis hayati.
淕reenWrap bukan hanya project lingkungan, tetapi juga bentuk kontribusi nyata dalam menciptakan solusi inovatif berbasis kearifan lokal yang mendukung keberlanjutan, ujarnya.
Selain terlibat dalam project, ia juga menghadiri kuliah, sesi learning journey, dan cultural night. Salah satu pengalaman berkesan adalah sesi Healing the Cracks, Soilful Approach serta kesempatan visit Common Ground Green Nudge yang mempertemukannya dengan para penggerak komunitas lokal Singapura.
Lebih lanjut, mahasiswa ini menyampaikan rasa syukur karena ide gagasan yang lahir dari permasalahan lokal di Bantaeng, Sulawesi Selatan mendapatkan apresiasi pada forum internasional tersebut. Ia menegaskan bahwa kesempatan besar tidak datang karena kesiapan semata, melainkan keberanian untuk mencoba. 淜ami berharap GreenWrap mampu mendorong inovasi berkelanjutan yang sejalan dengan SDGs di masa mendatang, tutupnya.
Penulis: Venny Pramudita Rahayu
Editor: Yulia Rohmawati





