UNAIR NEWS – Tim mahasiswa Magister Ilmu Forensik Sekolah 51动漫 (UNAIR) turut membantu proses identifikasi korban tragedi runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo. Keterlibatan mereka bermula sejak masa evakuasi, ketika para petugas menemukan adanya korban meninggal dunia.
Di bawah bimbingan dokter PPDS Spesialis Forensik, Prof Ahmad Yudianto, mahasiswa berperan membantu tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur dalam menangani barang bukti sekunder seperti pakaian dan properti milik korban.
Proses Identifikasi Korban
Salah satu mahasiswa yang terlibat, Salva Sabrina Cahyani, mengatakan bahwa tim mahasiswa terbagi dalam beberapa shift untuk membantu proses identifikasi di lapangan.
淜ami bertugas membantu mengelola properti yang melekat pada korban, seperti baju, sarung, gelang, untuk dibersihkan dan diidentifikasi. Selain itu, kami juga membantu dokter forensik melakukan dokumentasi sebagai bukti selanjutnya untuk diidentifikasi, jelas Salva.
Sebagai koordinator mahasiswa, Salva berperan mengatur delegasi serta menjadi penghubung antara tim mahasiswa, dokter forensik, dan DVI. Ia mengakui bahwa kondisi lapangan menuntut kerja cepat dan profesional di tengah suasana duka keluarga korban.
淜ami berpacu dengan waktu karena semakin lama korban akan semakin sulit diidentifikasi. Kami pun berkolaborasi menyusun potongan-potongan bukti dengan cermat, tepat, dan cepat untuk membantu memberikan data pada hasil identifikasi, ungkapnya.
Wujud Penerapan Ilmu
Proses identifikasi berlangsung secara kolaboratif bersama berbagai pihak yakni tim DVI Polda Jawa Timur, Inafis, seluruh dokter forensik Jawa Timur, dokter PPDS, dokter koas, hingga dokter gigi.
Melalui pengalaman tersebut, Salva menilai bahwa keterlibatan mahasiswa forensik dalam penanganan bencana menjadi wujud penerapan ilmu yang mereka pelajari.
淢elihat kondisi korban yang sebagian besar masih berusia anak-anak, meningkatkan komitmen saya untuk membantu sungguh-sungguh. Rasanya sedikit lega ketika bisa membantu proses identifikasi hingga korban dapat kembali ke keluarganya, tuturnya.
Bagi Salva, pengalaman itu sekaligus membuka pandangan baru tentang luasnya ruang kontribusi bagi mahasiswa forensik.
淚lmu forensik, ilmu yang multidisiplin. Latar belakang yang berbeda dari mahasiswa ilmu forensik dapat berkontribusi dalam segala aspek. Ada mahasiswa yang mengambil psikologi forensik bisa bantu trauma healing, yang dari rekam medik bantu kumpulkan data ante-mortem, bahkan dari kimia forensik bisa menganalisis zat toksik. Jadi dalam situasi seperti ini, semua bidang punya peran, pungkasnya.
Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah
Editor: Ragil Kukuh Imanto





