UNAIR NEWS – ” Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 51¶¯Âþ (UNAIR) yang tengah menjalani praktik kerja lapangan di PELINDO Branch Jamrud Nilam Mirah semakin memantapkan fokusnya pada persoalan kesehatan akibat paparan panas di area operasional pelabuhan. Berdasarkan pengamatan iklim kerja panas pada 15 Desember 2025, nilai Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) di area CO Penumpukan Terminal Jamrud menunjukkan angka yang perlu dikendalikan sesuai Permenaker No. 5 Tahun 2018 di tengah paparan sinar matahari langsung dan beban kerja fisik yang tinggi.
Data statistik iklim memperlihatkan bahwa Surabaya kerap mengalami suhu udara yang tinggi. Menurut catatan meteorologi, suhu maksimum di Surabaya pada beberapa tahun terakhir berkisar antara 34,2 “ 35,7 °C pada siang hari, dengan suhu rata-rata harian sekitar 29 “ 31 °C, terutama selama musim kemarau dan puncak kemarau tahunan. Pada 2025, suhu siang di Surabaya juga sering melampaui angka 34 °C, sementara beberapa gelombang panas di tahun-tahun sebelumnya mencatat suhu hingga mendekati 37 °C di zona perkotaan tertentu. Tren ini mencerminkan pola tropis iklim Jawa Timur yang memicu panas terik berkepanjangan pada periode tertentu setiap tahunnya .
Kesiapan Tim First Aid PELINDO menjadi semakin penting ketika menyikapi fenomena ini. Paramedis First Aid Clinic , Miftachul Rizal Halim, mengatakan bahwa kondisi hot-stress atau heatstroke umumnya terjadi karena paparan panas berlebihan dalam waktu panjang dan kurangnya asupan cairan. Ia menjelaskan bahwa pekerja dengan tekanan darah rendah, anemia, atau riwayat penyakit tertentu memiliki risiko lebih tinggi terkena heatstroke, sehingga selain pertolongan pertama, edukasi dan pencegahan menjadi tawaran utama pihak medis.
PELINDO telah menyediakan shelter area pelabuhan dilengkapi titik air minum sebagai tempat istirahat pekerja untuk mencegah dehidrasi. Namun pengalaman pekerja Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) menunjukkan fakta lain di lapangan. Kusno, salah satu TKBM yang diwawancarai, mengaku sering merasakan badan lemas, pusing, dan cepat capek saat terpapar panas matahari. œKalau sudah terasa begitu, saya menepi sebentar di shelter dan minum air putih supaya badan kembali segar, ujarnya. Ia juga mampu mengenali tanda kelelahan akibat panas, seperti keringat dingin dan pandangan berkunang.
Informasi mengenai kondisi akibat panas tadi pernah ia terima melalui kegiatan safety briefing yang rutin dilaksanakan di area kerja. œWaktu briefing kami diingatkan untuk sering minum, istirahat bila perlu, dan segera lapor kalau merasa tidak enak badan, kata Kusno. Meski begitu, menurutnya, fasilitas pendukung seperti shelter dan titik air perlu ditambah terutama di lokasi kerja yang jauh dari pusat fasilitas utama agar pekerja lebih siap menghadapi panas ekstrem.
Mengikuti masukan dari praktik kerja lapangan, tim mahasiswa juga memberikan rekomendasi inovatif kepada tim HSSE dan First Aid PELINDO, seperti penggunaan sistem pengingat hidrasi di area kerja, penyediaan minuman elektrolit ringan, hingga pelatihan singkat pertolongan pertama bagi rekan kerja TKBM sebagai responden awal sebelum tim medis tiba. Usulan-usulan ini dinilai penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan kolektif dalam kondisi kerja panas yang semakin intens.
Dalam situasi darurat, Tim First Aid tetap melakukan penanganan standard, seperti memposisikan korban miring, menaikkan kaki untuk meningkatkan aliran darah ke otak, memeriksa pernapasan dan cedera, serta observasi medis sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan jika diperlukan. œOrang yang pingsan tidak boleh langsung diberi minum, harus disadarkan dulu, tambah Miftachul.
Fenomena suhu panas tinggi di Surabaya yang kerap terjadi terutama pada musim kemarau ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan akibat panas bukan sekadar potensial tetapi nyata dirasakan oleh pekerja di lingkungan terbuka seperti pelabuhan. Oleh karena itu, kolaborasi antara manajemen PELINDO, Tim First Aid, tim mahasiswa K3 UNAIR, dan pekerja dianggap krusial untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif meskipun menghadapi tantangan panas ekstrem yang terus terjadi setiap tahunnya.
Penulis: Anggie Nurul Imam Kristanti, Nabila Eka Agustin,Daninda Aisya Putri, dan
Achmad Yulianto Saputra





