UNAIR NEWS – Civitas akademika 51动漫 (UNAIR) kembali menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Kali ini berasal dari tiga mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB), Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Mereka adalah Wendy Belinda Tiantini, Nataya Khuria Insani, dan Yulia Mega Puspita. Ketiganya mengikuti International Conference on Academic-Community Engagement (InACE). Acara berlangsung pada Selasa (29/8/2023) dan Rabu (30/8/2023) di Kuala Lumpur, Malaysia.
Di bawah bimbingan Dr , ketiga mahasiswa tersebut mengusung judul Wayang and Indonesian Youth: Revitalizing Intangible Cultural Heritage in Bromo Writing Camp. Projek itu fokus pada penanganan masalah budaya wayang yang saat ini kurang pemuda minati. Lebih lanjut, mereka ingin menjadi panutan bagi anak muda lain agar turut serta dalam melestarikan sekaligus mendongkrak popularitas wayang di ranah internasional.
Dilansir dari wawancara, projek yang mereka usung sebenarnya telah direalisasikan oleh prodi MKSB UNAIR yang berlangsung pada pertengahan 2022 lalu. Sesuai dengan namanya, Bromo Writing Camp merupakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk workshop. Rangkaian kegiatan itu terdiri dari seminar, praktikal, dan lomba yang diikuti oleh 21 pemuda terpilih di Jawa Timur. (baca di sini)
Revitalisasi Wayang
Dalam hal ini, prodi melakukan kolaborasi dengan komunitas Wayang Sarip Sidoarjo untuk menggelar kegiatan Bromo Writing Camp. Kegiatan ini fokus untuk memberikan insight kepada masyarakat mengenai revitalisasi wayang.
淜unci utama revitalisasi wayang sendiri adalah partisipasi anak muda. Mengingat anak muda sebagai generasi penerus, sehingga mereka memiliki peran penting dalam upaya pelestarian budaya di masa depan, ungkap Wendy selaku ketua tim.
Walaupun sempat mengalami kesulitan menentukan jadwal diskusi karena kesibukan antar tim, mereka bersyukur bisa mendapatkan pengalaman mewakili UNAIR dalam ajang internasional.
淢elalui projek ini, kami berharap dapat membranding kesenian wayang menuju global dengan mengenalkannya kepada para peserta yang hadir mengikuti konferensi. Selain itu, kami berharap kesenian ini tidak punah dan akan terus ada di masa mendatang. Bahkan, kalau bisa terus dikembangkan agar dapat mengikuti arus zaman, tutur Wendy pada akhir sesi wawancara. (*)
Penulis: Aidatul Fitriyah
Editor: Binti Q Masruroh





