UNAIR NEWS – Mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam () 51动漫 melaksanakan kegiatan Advokasi Desa Siaga TBC pada Selasa (27/1/2026) di Balai Desa Bulusari, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini bertujuan memperkuat komitmen lintas sektor dalam upaya pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis (TBC) berbasis masyarakat, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Kegiatan advokasi ini sejalan dengan SDGs Tujuan 3, yaitu Good Health and Well-Being, khususnya pada upaya mengakhiri epidemi penyakit menular seperti TBC. Selain itu, pelibatan berbagai unsur masyarakat dan pemerintah desa juga mencerminkan implementasi SDGs Tujuan 17, yakni Partnerships for the Goals, melalui penguatan kemitraan lintas sektor di tingkat desa.
Kegiatan advokasi dihadiri oleh Kepala Desa Bulusari, Sekretaris Desa, Kepala Dusun Krajan, Plampang, dan Bulupayung, Bidan Desa, Koordinator Program TBC, perwakilan kader kesehatan, serta pemateri dari Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (Yabhysa). Sinergi lintas sektor ini menjadi langkah penting dalam mendukung target eliminasi TBC hingga tingkat desa.
Kepala Desa Bulusari, Mukhlish, M.Pd.I dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas peran aktif mahasiswa PKL FIKKIA UNAIR dalam mendampingi desa. 淜ami menyambut baik kegiatan advokasi Desa Siaga TBC ini. Permasalahan TBC tidak bisa ditangani sendiri oleh tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan peran kader dan masyarakat. Pemerintah desa berkomitmen mendukung upaya pencegahan dan menghilangkan stigma terhadap penderita TBC, ujarnya.
Mahasiswa PKL FIKKIA UNAIR berperan sebagai fasilitator advokasi yang mendorong diskusi partisipatif antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan mitra. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya pendekatan persuasif, penggunaan bahasa lokal, serta perlindungan terhadap kerahasiaan identitas pasien TBC agar tidak menimbulkan stigma sosial, sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesehatan yang inklusif dan berkeadilan.
Perwakilan kader kesehatan TBC Desa Bulusari menyampaikan bahwa adanya kesepakatan bersama ini memberikan kejelasan peran kader di lapangan. 淒engan adanya advokasi dan kesepakatan ini, kami sebagai kader merasa lebih percaya diri dalam melakukan pendampingan pasien, edukasi rumah tangga, serta koordinasi lintas dusun tanpa khawatir menimbulkan stigma, ungkapnya.
Hasil utama dari kegiatan ini adalah disepakatinya Lembar Persetujuan Advokasi Desa Siaga TBC yang memuat komitmen pendampingan pasien TBC secara etis dan rahasia, edukasi masyarakat secara persuasif, serta dukungan perangkat desa dalam pencegahan stigma dan pengucilan penderita TBC. Desa Bulusari juga sepakat mendorong pembentukan tim kader TBC di setiap dusun, yaitu Dusun Krajan, Plampang, dan Bulupayung, sebagai bentuk penguatan kapasitas masyarakat desa.
Ketua PKL Faradiva Husna, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus kontribusi akademisi dalam pencapaian SDGs. 淜ami berharap advokasi Desa Siaga TBC ini tidak berhenti pada penandatanganan komitmen, tetapi dapat diimplementasikan secara berkelanjutan melalui peran aktif kader, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan, tuturnya.
Kegiatan advokasi ditutup dengan penandatanganan Lembar Persetujuan Advokasi Desa Siaga TBC serta komitmen pembentukan Surat Keputusan (SK) Kader TBC Desa Bulusari. Melalui kegiatan ini, mahasiswa PKL FIKKIA UNAIR berharap Desa Bulusari dapat menjadi desa siaga TBC yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata dalam pencapaian target Zero TBC serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Penulis: Mahasiswa PKL FIKKIA





