UNAIR NEWS – Tanpa sinyal, scroll media sosial, dan ponsel hanya berfungsi sebagai senter. Kondisi tersebutlah yang mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan () Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam () 51动漫 (UNAIR) Banyuwangi rasakan selama pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) Satwa Liar. Kelompok tersebut terdiri dari Fauzan Mumtazi, Amin Nur Asdiyanta, Camelia Elizabeth Gordon, dan Fira Nursyah Shinta. Mereka melaksanakan aktivitas itu di kawasan konservasi wilayah Bandung Selatan bersama The Aspinall Foundation (TAF) Bandung.
Pelajari Konservasi Owa dan Lutung
Fauzan bersama mendapatkan pengalaman menangani satwa owa dan lutung. Dua primata khas Indonesia dengan status konservasi yang semakin mengkhawatirkan. Fauzan menuturkan pengalaman itu membuka wawasan dunia satwa liar. Mulai dari aspek kesehatan, perilaku, dan tantangan konservasi. Mahasiswa juga terlibat aktivitas teknis konservasi.
淏elajar langsung di lapangan beda banget. Kita jadi tahu realita kerja dunia satwa liar, belajar mendengar, dan memahami penjelasan dari petugas lapangan, ujar Fauzan.

Fauzan juga mempelajari manajemen kandang mulai dari sanitasi, desinfeksi, merancang ransum, dan menjadwal pemberian makanan. Pendalaman manajemen kesehatan satwa seperti pemeriksaan feses, terapi akupuntur, pemberian vitamin, dan penanganan kasus kembung lutung. Secara langsung mereka ikut dalam observasi perilaku satwa selama fase pre-release dan memonitoring di kawasan perilisan satwa.
淢onitoring sebelum perilisan meliputi identifikasi pakan alami, pemantauan kondisi satwa sehat, birahi, agresif, dan sebagainya. Kita juga menganalisis titik jelajah satwa liar di alam, jelas mahasiswa PPDH FIKKIA gelombang 1 itu.
Kolaborasi Untuk Konservasi
Mahasiswa turut mendapatkan kesempatan membuat enrichment. Yaitu stimulasi lingkungan untuk melatih kembali insting liar satwa sebelum pelepasan ke habitat alami. Banyak pelajaran tentang ekosistem hutan yang belum pernah mereka dapatkan. Termasuk kolaborasi bersama Polhut, BKSDA, MMP, dan TAF Bandung.

Lebih jauh, pengalaman PKL satwa liar kian menumbuhkan kesadaran peran dokter hewan dalam upaya konservasi, tidak hanya dari sisi medis. Menurut Fauzan, dokter hewan harus memahami konteks kebijakan dan kondisi konservasi di Indonesia agar dapat mengambil keputusan secara bijak. Harapannya, kita dapat lebih peduli dan paham soal konservasi primata.
淏anyak yang hampir punah dan butuh perhatian kita. Jangan cuma fokus di kampus, tapi tahu juga realita lapangan. Negara kita aja kadang nggak mampu biayai konservasi, makanya peran kita penting banget ke depan, pungkasnya.
Penulis: Azhar Burhanuddin
Editor: Ragil Kukuh Imanto





