n

51

51 Official Website

Mahasiswa UNAIR Bikin Detektor Alat Mesin Welding Kapal, Cegah Kerugian Besar

detektor mesin
TIM mahasiswa UNAIR yang berinovasi membuat detektor alat mesin welding kapal, sehingga tahu kapan mesin perlu dilakukan service agar mesin welding tidak rusak. (Foto: Tim PKMT)

UNAIR NEWS – Lima mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) 51 Surabaya berhasil membuat detektor alat mesin welding kapal. Alat ini untuk membantu mengetahui kapan mesin perlu dilakukan service agar mesin welding kapal tidak rusak.

Inovasi penelitian yang masuk dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T) ini, membantu menyelesaikan permasalahan mitra, yakni PT Orela Shipyard. Selama ini perusahaan tersebut masih menggunakan welding manual, sehingga tidak mengetahui kapan mesin harus dilakukan service, sehingga terjadi kerusakan yang mendadak dan dapat merugikan perusahaan dalam jumlah besar.

Sahrul Dwiki Darmawan, ketua tim PKMT ini bersama empat rekannya, yakni Sinta Dewi Purwaningsih, Riska Maulani, Nico Kurniawan Dwi Meiantono, dan Wasyiul Kurnia Prasetyo Wibowo, membuat inovasi untuk menyelesaikan permasalahan pada PT Orela Shipyard tadi. Tim PKMT ini juga didampingi oleh Dr. Riris Rulaningtyas, ST., MT., staf pengajar FST, selaku pembimbing.

Keberhasilan inovasi ini kemudian dituangkan dalam proposal PKM 2018. Disyukuri bahwa proposal Sahrul Dkk ini berhasil lolos seleksi, sehingga mendapatkan hibah dana penelitian dari Kemenristekdtikti dalam program PKM tahun 2018.

Dijelaskan oleh Sahrul, PT Orela Shipyard merupakan industri perkapalan yang melayani perbaikan kapal, pembuatan kapal, dan penyewaan kapal. Selama ini dalam proyek pembuatan kapal masih kurang optimal pada bagian pengelasan (welding) karena masih dilakukan secara manual. Sehingga tidak diketahui lama waktu pengelasan, hal ini dapat menyebabkan perusahaan tidak bisa memperkirakan lama pengerjaan kapal.

Kami berinovasi berupa Running Hours Smart Detector, sebagai ide yang kami gagas agar bisa menyelesaikan permasalahan tersebut, tambah Sahrul.

Dijelaskan Sahrul, prinsip kerja alat ini dengan memanfaatkan aliran arus pada mesin welding kapal, yang ketika menyala sebagai sumber tegangan. Sebuah sensor akan diatur sedemikian rupa, sehingga berfungsi untuk mendeteksi aliran arus pada mesin welding.

Mekanisme yang juga akan bekerja yakni alat akan mencatat lama bekerjanya mesin welding berdasarkan arus yang dikeluarkan selama bekerja, sehingga saat mendekati masa lelah atau maintenance, penggunaan alat dapat dihentikan dan segera dilakukan service untuk memulihkan kinerja mesin.

Pada alat ini akan dipasangkan wireless yang nantinya langsung terhubung ke jaringan server, sehingga bisa dilakukan pengecekan langsung, tambah Sinta Dewi, anggota tim yang lain.

Dengan terciptanya detektor alat mesin welding berupa Running Hours Smart Detector ini, Sahrul Dkk berharap dapat menyelesaikan permasalahan pada mitra kerja khususnya, dan pada kasus serupa lainnya pada perusahaan lain. Dengan demikian akan memberi keuntungan berupa mengetahui besar konsumsi daya listrik dan mencegah atau menghindari adanya kerusakan pada peralatan welding.

Artinya akan dapat menstabilkan anggaran dana dan biaya konsumsi daya listrik serta dapat membuat mesin welding kapal awet dan bertahan lama, kata Sahrul memungkasi penjelasannya. (*)

Editor : Bambang Bes

AKSES CEPAT