UNAIR NEWS Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Belajar Bersama Komunitas (BBK) 6 51动漫 menggelar pelatihan inovatif bertajuk PELITA (Pelatihan Lilin Tangani Jelantah) di Desa Sukorejo, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Program ini digelar pada Selasa (22/7/2025) di Balai Desa Sukorejo dan menyasar kelompok ibu-ibu PKK sebagai mitra utama kegiatan.
Melalui pelatihan ini, tim KKN UNAIR mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga berupa minyak jelantah menjadi produk lilin aromaterapi yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi. Kegiatan itu didampingi oleh dosen pembimbing Novyandri Taufik Bahtera SE M Sc.
Mengubah Limbah Menjadi Peluang Usaha
Program PELITA dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kebiasaan membuang minyak jelantah secara sembarangan, yang berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Tim melihat potensi besar untuk mengolah limbah ini menjadi produk fungsional dan estetik seperti lilin aromaterapi yang dapat dibuat secara sederhana di rumah.
淢inyak jelantah sebenarnya bisa menjadi peluang usaha kecil jika diolah dengan tepat. Produk lilin aromaterapi kami pilih karena mudah dibuat dan bisa langsung dimanfaatkan atau dijual, ujar Nabilla Anggun Zaskia selaku Ketua Pelaksana.
Edukasi Interaktif dan Praktik Langsung
Pelatihan PELITA dibagi dalam dua sesi utama, yakni edukasi interaktif dan praktik pembuatan lilin. Tim memaparkan dampak negatif penggunaan minyak jelantah berulang dan mengenalkan alternatif pengolahannya. Sesi praktik melibatkan langsung warga dalam proses pencampuran bahan, yaitu palm wax dan minyak jelantah.
Palm wax dipilih karena bersifat ramah lingkungan, memiliki daya sebar aroma yang baik, dan tidak menghasilkan residu berbahaya saat lilin dibakar. Selain itu, essential oil yang digunakan adalah varian organik murni tanpa bahan kimia tambahan, sehingga aman digunakan oleh semua kelompok usia, termasuk ibu hamil dan bayi, bahkan dapat diaplikasikan langsung ke kulit.
淎ntusiasme warga, khususnya ibu PKK, sangat tinggi. Mereka aktif bertanya dan bahkan sudah merencanakan untuk mencoba membuatnya di rumah, ungkap Anggun.
Tantangan Lapangan dan Respons Warga
Selama proses persiapan hingga pelaksanaan, tim menghadapi tantangan seperti keterbatasan bahan praktik dan perlu adaptasi penyampaian materi agar sesuai dengan karakteristik warga. Namun, pendekatan yang komunikatif dan visual kontekstual berhasil mengatasi kendala tersebut.
Ketua PKK desa turut berperan aktif menyukseskan kegiatan, mulai dari mobilisasi peserta hingga penyediaan alat praktik. 淜ami senang bisa belajar langsung dan ternyata bahan-bahannya juga aman, ujar Ibu Nida Sugianti selaku Ketua PKK yang ikut terlibat.
Arah Keberlanjutan dan Harapan Jangka Panjang
Ke depan, tim berharap pelatihan ini dapat menjadi titik awal pemberdayaan ekonomi rumah tangga berbasis lingkungan. Panduan sederhana telah disusun agar warga dapat mereplikasi prosesnya secara mandiri. Tim juga membuka peluang kolaborasi lanjutan dengan pihak desa.
淧rogram ini sejalan dengan SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan. Kami ingin mendorong budaya pengelolaan limbah kreatif yang memberi manfaat nyata bagi lingkungan dan ekonomi warga, pungkas Anggun.(*)
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





