UNAIR NEWS Sejumlah 82 Mahasiswa 51动漫 (UNAIR) penerima beasiswa Asrama Mahasiswa Nusantara () mengikuti semarak peringatan Hari Sumpah Pemuda. Kegiatan tersebut berlangsung di Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Kota Surabaya, Jalan Jemur Andayani I, Kelurahan Siwalankerto, pada Selasa (28/10/2025). Sebanyak 309 mahasiswa penerima beasiswa AMN yang berasal dari 38 provinsi di seluruh Indonesia turut menjadi peserta dalam kegiatan itu.
Dalam upacara tersebut, seluruh peserta mengenakan pakaian adat daerah asal masing-masing sebagai simbol persatuan di tengah keberagaman. 淧ara mahasiswa ini berasal dari berbagai suku, agama, dan ras yang bersatu dalam satu semangat Sumpah Pemuda. Mereka merepresentasikan wajah Indonesia yang majemuk namun tetap satu tujuan, ujar Direktur Eksekutif AMN Surabaya, Dhian Satria Yudha Kartika.
Wujud Nyata Semangat Persatuan Pemuda Indonesia
Dalam upacara yang dipimpin langsung oleh Dhian, suasana nasionalisme dan kebersamaan terasa kuat. Mahasiswa tampil mengenakan pakaian adat yang beragam. Mulai dari ulos Batak, busana adat Aceh, kebaya Bali, pakaian Dayak, kain tenun Nusa Tenggara, hingga mahkota kepala cendrawasih khas Papua.

Dhian menyampaikan bahwa semangat ini mencerminkan nilai yang sama dengan Kongres Pemuda 1928. Di mana para pemuda dari berbagai latar belakang bersatu demi cita-cita Indonesia yang merdeka dan berdaulat. 淪eperti para pemuda hampir 100 tahun lalu. Mereka yang berkumpul di AMN datang dengan perbedaan, namun bersatu untuk tujuan bersama yakni menuju Indonesia Emas 2045, terang Dhian.
Asrama Mahasiswa Nusantara sebagai Miniatur Indonesia
AMN Surabaya merupakan hasil sinergi antara berbagai instansi. Antara lain Badan Intelijen Negara (BIN), Kemdiktisaintek, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kodam V/Brawijaya, Polda Jawa Timur, serta konsorsium empat perguruan tinggi negeri di Surabaya. Yaitu UNAIR, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan UPN Veteran Jawa Timur.
Salah satu mahasiswa Fakultas Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR, Oskar Johnafrel Penggabean asal Sumatra Utara, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari program tersebut. 淪aya sangat senang bisa mengenal banyak budaya dari seluruh Indonesia. Di sini kami tidak membedakan satu sama lain, kami belajar, bekerja, dan hidup bersama dalam satu atap keberagaman, ungkap Oskar. Ia juga tampil mengenakan pakaian adat Batak berselendang ulos dan ikat kepala khas Papua.
Melalui kegiatan ini, semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi slogan, tetapi nyata dihidupi oleh generasi muda yang siap membawa Indonesia menuju masa depan yang berdaulat, adil, dan sejahtera.
Penulis: Muhammad Afriza Atarizki
Editor: Yulia Rohmawati





