Hematoma subdural (SDH) adalah lesi intrakranial yang terjadi di antara membran dural dan arachnoid yang mengelilingi otak. SDH berasal dari cedera pada pembuluh vena penghubung, terutama yang dekat dengan sinus sagital superior. Penurunan kesadaran pada SDH yang terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit dapat dikategorikan berdasarkan waktu: hematoma subdural kronis, hematoma subdural akut, dan hematoma subdural subakut. Peningkatan tekanan intrakranial yang tiba-tiba, perdarahan arteri, atau edema otak akut menyebabkan tanda-tanda penurunan kesadaran. Selain itu, mungkin terdapat tanda-tanda gangguan neurologis akibat peningkatan tekanan intrakranial, seperti diplopia, anisokoria pada pupil, dan gangguan sensorik maupun motorik.
Krisis tiroid adalah keadaan darurat endokrin yang ditandai dengan tirotoksikosis yang dapat dinilai menggunakan beberapa skor yang menggabungkan parameter klinis dan penunjang, seperti Burch-Wartofsky Point Scale (BWPS)dan The Japanese Thyroid Association (JTA). Diagnosis krisis tiroid dapat dilakukan menggunakan skala BWPS untuk membedakan tirotoksikosis yang tidak rumit, tanda-tanda awal krisis, atau apakah krisis tiroid sudah terjadi, atau dapat pula menggunakan kriteria dari JTA. Skala BWPS adalah sistem penilaian yang digunakan untuk menilai keparahan gejala dekompensasi organ multipel, yang meliputi termoregulasi, takikardia/fibrilasi atrium, gangguan kesadaran, gagal jantung kongestif, disfungsi gastrointestinal dan hati, serta faktor pemicu lainnya.
Selain itu, kriteria JTA dapat digunakan berdasarkan kombinasi gejala spesifik yang disebabkan oleh dekompensasi beberapa organ. Salah satu karakteristik kriteria BWPS adalah adanya gangguan kesadaran yang berkontribusi pada kejadian krisis tiroid. Namun, keberadaan penyakit lain dengan gejala demam (seperti hipertermia ganas dan pneumonia), gangguan kesadaran (seperti gangguan psikiatri dan penyakit serebrovaskular), kelainan hati (seperti gagal hati akut dan hepatitis virus), serta gagal jantung (seperti infark miokard akut) dapat mempersulit penilaian krisis tiroid. Dengan demikian, menentukan apakah gejala-gejala tersebut disebabkan oleh krisis tiroid atau hanya manifestasi persisten dari penyakit yang mendasarinya menjadi tantangan.
Artikel ini mempresentasikan kasus seorang wanita berusia 33 tahun dengan berat badan 38 kg mengalami penurunan kesadaran secara bertahap, muntah, dan sakit kepala. Pasien didiagnosis dengan hematoma subdural (SDH). Sebelum masuk rumah sakit, riwayatnya menunjukkan penurunan kesadaran selama 7 hari, disertai muntah satu kali dan demam. Pasien diketahui memiliki riwayat sindrom Down sejak lahir, tetapi tidak ada riwayat yang diketahui mengenai hipertiroidisme. Pada pemeriksaan fisik, skor Glasgow Coma Scale (GCS) pasien adalah E3V3M5. Tekanan darah tercatat 105/65 mmHg (MAP 80 mmHg), nadi 118 kali per menit, laju pernapasan 24 kali per menit, saturasi oksigen 92-95% dengan masker oksigen sederhana 6 liter per menit, dan suhu tubuh 38°C. Hasil CT scan kepala menunjukkan hematoma subdural subakut di area temporoparietal dextra dengan ketebalan 1,6 cm, pergeseran garis tengah ke sisi sinistra sebesar 11,2 mm, dan tanda-tanda awal hidrosefalus non-komunikans. Pemeriksaan X-ray dada awal tidak menunjukkan infiltrasi bilateral, namun terlihat pembesaran cor dan elongasi aorta dengan rasio kardiotoraks lebih dari 50%.
Saat tiba di rumah sakit, pasien menunjukkan gejala klinis krisis tiroid dengan skor Burch Wartofsky sebesar 50. Hasil laboratorium tiroid menunjukkan kadar T4 bebas (FT4) lebih dari 100 ng/dL (nilai normal 10,60-19,40 ng/dL) dan kadar thyroid-stimulating hormone (TSH) yang sangat rendah sebesar 0,006 μIU/mL (nilai normal 0,500-5,000 μIU/mL). Berdasarkan data CT kepala, diputuskan untuk melakukan prosedur drainase dua lubang (burr hole). Selama di ruang gawat darurat, terapi untuk krisis tiroid dimulai dengan pemberian thiamazole 20 mg tablet setiap 8 jam, propranolol 10 mg tablet setiap 8 jam, dan injeksi metilprednisolon 62,5 mg sekali sehari. Terapi ini dilakukan bersamaan dengan persiapan operasi drainase hematoma subdural tanpa menunda prosedur darurat tersebut.
Selama prosedur operasi, kondisi hemodinamik pasien tetap stabil. Setelah operasi, terapi untuk krisis tiroid dilanjutkan selama tiga hari. Manajemen yang baik terhadap krisis tiroid akibat SDH ini menghasilkan penurunan denyut nadi menjadi 100 kali per menit. Hasil laboratorium pada hari ketiga terapi menunjukkan kadar T4 bebas sebesar 3,74 ng/dL, T3 total sebesar 0,55 ng/dL, dan TSH sebesar 0,006 μIU/mL. Selama operasi tidak terjadi perdarahan masif, dan kondisi hemodinamik tetap stabil. Pasien berhasil di-ekstubasi dan kemudian dipantau di unit perawatan intensif. Selama perawatan intensif, pasien menunjukkan perbaikan kesadaran sehingga dipindahkan ke ruang perawatan rawat inap.
Kesimpulannya, pasien dengan hematoma subdural (SDH) yang datang ke rumah sakit dengan kondisi krisis tiroid akibat berbagai faktor pemicu harus segera diperiksa dan ditangani secara tepat. Operasi selama krisis tiroid adalah prosedur berisiko tinggi, tetapi harus dilakukan dalam keadaan darurat dengan persiapan yang hati-hati dan kewaspadaan tinggi, terutama untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan memastikan perawatan pascaoperasi yang baik. Peran ahli anestesi dalam manajemen perioperatif sangat penting, terutama dalam kasus-kasus yang rumit. Penanganan yang tepat dapat menghasilkan hasil yang lebih baik bagi pasien.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga., dr., M.Kes., SpAn-TI., Subsp. TI(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Yustiawan A, Suhardi CJ, Santoso KH, Airlangga PS, Santosa DA. Perioperative anesthetic management on burr hole drainage of subdural hematoma during thyroid storm in a patient with down syndrome: Case report. Journal of Medicinal and Pharmaceutical Chemistry Research. 2024 Aug 1;6(8):1199“207.





