51动漫

51动漫 Official Website

Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Kandidat Antiretroviral terhadap Infeksi HIV-1

Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Kandidat Antiretroviral terhadap Infeksi HIV-1
Ilustrasi buah manggis (sumber: kompas)

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah genus Lentivirus yang memicu penyakit oportunistik dalam tubuh manusia. HIV-1 telah menjadi masalah besar bagi masyarakat dunia sejak lama dan memicu terjadinya pandemi. Penemuan obat antivirus HIV-1 dengan mekanisme menghambat protein spesifik memiliki beberapa efek samping yang berbahaya bagi pasien. Solusi back to nature dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Bahan-bahan alami dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk pengobatan infeksi HIV-1 yang disinyalir lebih efektif dan minim efek samping. Eksplorasi bahan-bahan alami dari tumbuhan yang berlimpah sebagai kandidat pengobatan terhadap penyakit ini.

Selama ini obat HIV-1 disebut sebagai antiretroviral (ART), yang terdiri dari dua jenis: nukleosida dan nonnukleosida. Contoh ART adalah Azvudine yang bekerja menghambat enzim reverse transcriptase yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV-1. Penggunaan Azvudine telah disetujui oleh Cina sejak tahun 2021 dalam kombinasi dengan inhibitor lain, tetapi obat ini juga memiliki efek samping seperti kelelahan, demam, insomnia, peningkatan enzim hati, dan beberapa efek samping lainnya. Reverse transcriptase (RT) pada HIV berperan dalam pembentukan cDNA HIV selama proses replikasi sebelum proses perakitan virus berlangsung. Inhibitor RT umumnya bekerja dengan cara membentuk interaksi hidrogen dan hidrofobik untuk menghambat pembentukan struktur terbuka pada RT. Struktur terbuka pada RT memungkinkan terjadinya transkripsi balik ssRNA menjadi cDNA HIV-1, RT inhibitor dapat menghambat proses ini sehingga dapat bekerja sebagai antivirus.

Penghambat RT yang ada saat ini berbahan dasar senyawa sintetis dengan berbagai efek samping yang mungkin berbahaya jika seseorang mengkonsumsinya dalam jangka panjang. Penggunaan bahan alam sebagai pengobatan alternatif untuk pengobatan infeksi HIV-1 kemungkinan lebih efektif dan minim efek samping. Keanekaragaman tumbuhan banyak terdapat di daerah-daerah tropis seperti Indonesia. Kekayaan botani di daerah tropis menyediakan kelimpahan sumber daya bahan obat yang terbaharui. Memerlukan kajian lebih lanjut guna menggali potensi herbal untuk kandidat obat.

Potensi Senyawa Garcinone

Bahan alam kandidat antivirus seperti Garcinia mangostana L. dengan kandungan senyawa yang terdiri dari Mangostin dan Garcinone, potensi senyawa Garcinone saat ini masih belum teridentifikasi, Senyawa Garcinone memiliki turunan yang terdiri dari Garcinone A, Garcinone B, Garcinone C, Garcinone D, dan Garcinone E16,17. Namun, ekstrak Garcinia mangostana L. telah terbukti dapat menghambat replikasi suatu jenis virus dan dibuktikan melalui penelitian in vitro dan in vivo dengan mekanisme yang belum diketahui. Pendekatan in silico dapat digunakan untuk memprediksi mekanisme molekuler aktivitas suatu bahan alami untuk menghasilkan potensi antivirus.

Penelitian dari Kharisma et al. (2024) yang mengungkap potensi senyawa turunan Garcinone dari Garcinia mangostana L. sebagai antivirus HIV-1 melalui mekanisme penghambatan reverse transcriptase dengan pendekatan in silico. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa Garcinone A dari Garcinia mangostana L. dapat menjadi kandidat antivirus HIV-1 dengan mekanisme molekuler yang baik dalam menghambat aktivitas RT HIV-1 karena menghasilkan afinitas pengikatan yang lebih negatif negatif dibandingkan obat kontrol dan memicu interaksi pengikatan yang stabil pada target.

Hasil penelitian tersebut sangat berarti sekali dalam pengembangan bahan obat antivirus. Semoga ada uoaya tindaklanjut dan dapat membantu penyembuhan penderita HIV-1.

Penulis: Hery Purnobasuki

Link:

Baca juga: Eksistensi, Metode Deteksi, dan Ekotoksikologi Mikroplastik

AKSES CEPAT